Panama dan El Salvador secara resmi menetapkan status darurat akibat ancaman kekeringan parah yang dipicu oleh fenomena cuaca El Nino. Kondisi ekstrem ini mengancam ketahanan pangan di kawasan tersebut dan mengganggu jalur pelayaran internasional.
Di Panama, penurunan volume air secara mendadak memaksa pengelola Terusan Panama memangkas kapasitas operasional serta mengurangi jumlah lalu lintas kapal niaga. Menteri Dalam Negeri Panama, Dinoska Montalvo, menyatakan bahwa deklarasi keadaan darurat ini dilakukan agar pemerintah dapat mengantisipasi dampak buruk dari krisis air tersebut.
Alarm Merah di El Salvador
Sementara itu, El Salvador mengumumkan status siaga merah (red alert) untuk kekeringan meteorologis dan pertanian di seluruh wilayah nasionalnya. Sebagai langkah penanganan, Kementerian Pertanian El Salvador menyalurkan bantuan pangan bagi keluarga di kawasan pedesaan yang tidak memiliki sistem irigasi.
Serangan Geng Bersenjata di Kenscoff Haiti, Sedikitnya 47 Orang Tewas

Sebagian wilayah El Salvador masuk dalam Koridor Kering Amerika Tengah (Central American Dry Corridor), sebuah jalur gersang yang juga melintasi Honduras dan Nikaragua. Kawasan ini dikenal sangat rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Rekor Suhu Tinggi di Amerika Tengah dan Selatan
Krisis kekeringan ini diperparah oleh lonjakan suhu yang signifikan. Panama, El Salvador, dan Honduras telah memecahkan rekor suhu bulanan tertinggi sepanjang bulan Juni dan Juli. Secara khusus, El Salvador mencatatkan 14 rekor suhu panas baru sepanjang bulan Agustus.
Prabowo Tinjau Penanganan Gempa NTT

Sebelumnya, Honduras telah menempatkan 80 persen wilayahnya dalam status siaga. Dampak dari fenomena cuaca ini juga meluas hingga ke Amerika Selatan, di mana pemerintah Peru mengumumkan status darurat di sepertiga wilayah kotanya akibat ancaman gelombang panas dan hujan intensif.






