Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memberikan isyarat bahwa Teheran kemungkinan akan mempertimbangkan kembali kepemilikan senjata nuklir. Langkah ini dinilai sebagai upaya pencegahan terhadap ancaman serangan dari Amerika Serikat (AS).
Rezaei, yang juga merupakan mantan Panglima Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), menyatakan bahwa rentetan serangan yang dilancarkan oleh AS ke negaranya memperkuat alasan bagi Iran untuk memiliki bom atom. Menurutnya, kepemilikan senjata nuklir dapat berfungsi sebagai alat pencegahan mutlak guna melindungi kedaulatan negara dari agresi luar.
Kegagalan Sistem Non-Proliferasi Global
Dalam argumennya, Rezaei menyoroti kepatuhan terhadap aturan internasional yang dianggap tidak memberikan jaminan keamanan yang memadai. Ia menyebut bahwa kepatuhan pada sistem non-proliferasi nuklir global ternyata hanya memberikan sedikit perlindungan dari serangan militer.
Pesawat Militer NATO Gelar Latihan Mendadak di Dekat Kaliningrad Rusia

Iran sendiri memiliki rekam jejak dalam mematuhi kesepakatan internasional. Negara ini telah bergabung dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan sebelumnya sempat menerima perjanjian nuklir tahun 2015, yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, komitmen tersebut tidak menjamin keberlangsungan kesepakatan setelah Presiden AS Donald Trump secara sepihak membatalkan JCPOA pada periode pertama pemerintahannya.
Rezaei juga menekankan bahwa Iran telah membuka diri terhadap pengawasan internasional secara intensif. Menurutnya, tingkat pengamanan dan inspeksi yang dilakukan di Iran selama dua dekade terakhir merupakan hal yang belum pernah terjadi di tempat lain di dunia. Kendati demikian, kepatuhan dan keterbukaan ini dinilai tidak sebanding dengan perlindungan keamanan yang diterima Iran dari ancaman militer.
Perbandingan Efisiensi Militer Konvensional dan Nuklir
Selain faktor keamanan, Rezaei mengemukakan argumen dari sudut pandang efisiensi anggaran pertahanan. Ia membandingkan biaya kepemilikan senjata nuklir dengan pembangunan kekuatan militer konvensional yang membutuhkan dana sangat besar.
Putin Sebut Ukraina Buka "Kotak Pandora", Peringatkan Serangan Balasan ke Sektor Ekonomi

Rezaei menyatakan bahwa jika suatu negara memiliki senjata nuklir, hal tersebut bisa menjadi pilihan yang lebih murah dan lebih efektif daripada harus memiliki ratusan jet tempur F-35. Dengan memiliki senjata nuklir, negara tidak perlu menghabiskan sejumlah besar uang untuk membangun dan memelihara berbagai kemampuan militer konvensional lainnya demi mencapai tingkat pencegahan yang setara.
Meskipun Rezaei memberikan sinyal kuat mengenai perubahan paradigma pertahanan ini dan memaparkan berbagai argumen yang mendukung kepemilikan senjata nuklir, ia menegaskan bahwa langkah tersebut belum menjadi kebijakan resmi yang final. Hingga saat ini, Rezaei belum menyatakan secara pasti bahwa Iran telah memutuskan untuk membuat senjata nuklir tersebut.






