Pemerintah terus berupaya menangani dampak gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari delapan kabupaten/kota di provinsi tersebut, tujuh wilayah terdampak bencana sementara hanya Flores Timur yang tidak terkena dampak. Dalam proses penanganan medis pascabencana ini, dua rumah sakit dilaporkan berhenti beroperasi total, yakni masing-masing satu unit di Nagekeo dan Manggarai.
Untuk mengatasi lumpuhnya fasilitas tersebut, Kementerian Kesehatan mengirimkan rumah sakit lapangan ke Ruteng dan Nagekeo. Rumah sakit lapangan di Ruteng dikirim pada 17 Agustus dan mulai beroperasi pada malam hari tanggal 18 Agustus. Selain itu, pemerintah mengandalkan sejumlah rumah sakit rujukan seperti Rumah Sakit Komodo di Manggarai Barat dan rumah sakit di Borong, Manggarai Timur. Karena RS Komodo berjarak cukup jauh dari pusat gempa di Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Rumah Sakit Kapal Airlangga untuk mendekati area terdampak, serta berkoordinasi dengan Basarnas untuk evakuasi menggunakan helikopter.
Dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis (27/8), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan situasi terkini penanganan korban. Budi menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah pada satu hingga dua minggu pertama setelah bencana adalah mencegah bertambahnya korban meninggal dunia melalui penanganan pasien yang cepat.
Kabut Asap Memburuk, Pekanbaru Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla

Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa NTT: Banyak Warga Pilih Tradisional
Meskipun lebih dari 95 persen pasien dengan kategori triase merah (kondisi parah) dan kuning telah teridentifikasi, proses penanganan di lapangan menghadapi hambatan yang signifikan. Menkes ungkap kendala tangani korban gempa NTT: banyak warga pilih tradisional. Menurut Budi, salah satu tantangan budaya yang nyata di NTT adalah masih kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional, termasuk untuk menangani kasus patah tulang, ketimbang mencari perawatan medis profesional.
Kendala ini diperparah oleh keterbatasan sumber daya manusia (SDM) kesehatan di tingkat desa. Beberapa fasilitas kesehatan tidak dapat beroperasi karena tidak adanya tenaga medis yang bisa menjangkau wilayah pelosok. Akibatnya, sejumlah pasien yang masuk dalam kategori triase merah terpaksa menjalani perawatan mandiri di rumah mereka masing-masing.
Asrama Rusak akibat Gempa NTT, Sejumlah Polisi dan Keluarga Turut Mengungsi

Untuk menangani pasien rujukan yang didominasi oleh kasus trauma鈥攕eperti trauma kepala, dada, serta patah tulang tangan dan kaki鈥擪ementerian Kesehatan menyesuaikan pengiriman tenaga medis dengan memprioritaskan dokter spesialis ortopedi dan dokter bedah. Penanganan darurat ini merupakan tahap pertama dari tiga fase respons kesehatan, yang nantinya akan dilanjutkan dengan tahap kedua berupa reaktivasi seluruh fasilitas kesehatan terdampak, dan diakhiri dengan tahap ketiga untuk memulihkan faskes yang mengalami kerusakan fisik.






