Aktivitas kegempaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8). Hingga Kamis (27/8) sore, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 8.193 gempa susulan, dengan 146 getaran di antaranya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Rangkaian gempa ini diawali oleh gempa utama M7,7 pada pertengahan Agustus yang sempat memicu peringatan dini tsunami. Setelah itu, rangkaian gempa susulan terus terjadi di kawasan tersebut. Pada Sabtu (22/8/2026), gempa dangkal berkekuatan M5,1 yang dipicu oleh Flores Back-Arc Thrust mengguncang Flores tanpa potensi tsunami. Hingga Senin (24/8) atau hari kedelapan pascagempa utama, aktivitas seismik masih melanda Flores. Jumlah gempa susulan kemudian tercatat mencapai 7.259 kali pada Selasa (25/8), sebelum akhirnya menembus angka 8.193 pada Kamis sore.
Kekuatan gempa susulan yang terekam sangat bervariasi. BMKG mencatat kekuatannya berkisar dari magnitudo terkecil 1 hingga yang terbesar bermagnitudo 6,2, dengan data pemutakhiran menunjukkan magnitudo minimum berada di angka 1,1.
Pemuda Bekasi Ditangkap Usai Unggah 'Kepung DPR

Seiring dengan rentetan guncangan yang masih terjadi, jumlah korban jiwa dilaporkan bertambah. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Simanjuntak, mengonfirmasi adanya tambahan enam korban meninggal dunia tidak langsung. Penambahan ini membuat total korban meninggal dunia kini mencapai 111 orang, setelah sebelumnya melewati angka 100 orang pada Senin (24/8).
Berdasarkan hasil analisis BMKG, aktivitas gempa susulan ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga pekan ketiga dan keempat setelah gempa utama. Direktur BMKG Wijayanto mengimbau masyarakat untuk tetap waspada karena gempa susulan diprediksi dapat bertahan hingga empat minggu.
Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Labuan Bajo, BMKG Sebut Tidak Berpotensi Tsunami

BNPB bersama BMKG juga meminta warga NTT untuk terus meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi potensi kerusakan lanjutan pada struktur bangunan akibat tingginya frekuensi gempa susulan yang terjadi.






