Di tengah gempuran era digital yang serba cepat, sebuah sudut di lantai dua kawasan Dipatiukur, Bandung, menawarkan kapsul waktu yang hangat. Di sana, Vickry Irham, seorang pria paruh baya asal Aceh, sibuk menulis resi pengiriman di balik meja kasir yang dipenuhi kaset pita dan pemutar lagu tua. Bagi Vickry, toko musik bernama DU68 Musik ini bukan sekadar tempat transaksi jual-beli rilisan fisik. Tempat ini adalah ruang tunggu bagi ingatan, di mana para pencinta musik kerap datang bukan untuk berbelanja, melainkan untuk berbagi cerita, menitipkan koleksi pribadi, atau sekadar mengobrol sembari menikmati martabak hangat.
Perjalanan ruang nostalgia ini bermula dari keprihatinan hidup mahasiswa perantau pada tahun 1993. Saat masih berkuliah di jurusan Sastra Rusia Universitas Padjadjaran, Vickry dan temannya nekat menggelar tikar di trotoar Jalan Dewi Sartika. Bermodalkan sebatang lilin di tengah dinginnya malam Bandung, mereka menjajakan kaset-kaset koleksi pribadi demi menyambung hidup. Teriakannya yang khas mempromosikan keaslian kaset di tengah maraknya bajakan kala itu rupanya menarik perhatian. Lapak jalanan itu kemudian berpindah ke selasar kampus Unpad dan pelataran Masjid Salman ITB, menjadi titik temu ikonik bagi para seniman dan sineas muda Bandung masa itu.








