Sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diwarnai ketegangan pada Minggu, 30 Agustus 2026. Kericuhan sempat pecah di luar arena utama setelah pimpinan sidang bersama peserta menetapkan tata tertib pemilihan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pihak panitia lokal menegaskan bahwa pelaku kericuhan tersebut bukanlah peserta resmi atau mu'tamirin.
Berikut adalah kronologi peristiwa ketegangan yang sempat terjadi di sekitar arena Muktamar NU di Jombang.
Pembahasan dan Penetapan Tata Tertib Pemilihan
Sebelum kericuhan pecah di luar tenda, situasi di dalam arena sidang pleno terfokus pada perumusan aturan pemilihan ketua umum PBNU. Salah satu poin penting yang menjadi pembahasan adalah persyaratan masa iddah bagi calon ketua umum yang berlatar belakang pengurus partai politik atau memegang jabatan tertentu. Ketentuan masa iddah ini akhirnya diputuskan untuk tetap dipertahankan dalam tata tertib muktamar.
Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi, Mohamad Syafi' Alielha (Savic Ali), menjelaskan bahwa sempat ada aspirasi dari sejumlah pengurus cabang untuk menurunkan masa iddah menjadi enam bulan demi mendukung kandidat tertentu. Namun, usulan pelonggaran masa iddah tersebut tidak disetujui oleh para kiai sepuh.
Israel Evakuasi Yair Netanyahu dari AS Terkait Ancaman Pembunuhan dari Iran

Selain masalah masa iddah, sidang pleno juga menyepakati aturan mengenai rangkap jabatan yang tidak mengalami perubahan. Aspirasi dari sebagian warga Nahdliyin agar Sekretaris Jenderal PBNU tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai menteri tidak diakomodasi. Hasil akhir tata tertib menetapkan posisi Sekjen PBNU masih diperbolehkan merangkap jabatan sebagai menteri.
Upaya Penerobosan Tenda dan Sabotase Kelistrikan
Ketegangan di ruang sidang kemudian memicu reaksi di luar arena. Setelah tata tertib tersebut disahkan, sekelompok orang tidak dikenal mulai berkumpul dan mencoba merangsek masuk ke dalam tenda arena muktamar dari sisi barat.
Panitia Lokal Bidang Media dan Publikasi Muktamar NU, Amik Izzul Islam, menyatakan bahwa upaya penerobosan tersebut berhasil digagalkan oleh tim keamanan yang berjaga di lokasi. Tidak hanya mencoba menerobos masuk, kelompok tersebut juga melakukan tindakan sabotase dengan merusak instalasi kelistrikan di arena muktamar. Aksi pengrusakan kabel dan instalasi ini sempat memicu kebakaran singkat di area tersebut sebelum akhirnya berhasil diatasi.
Dalam identifikasi awal, panitia menemukan bahwa sejumlah oknum pembuat kericuhan mengenakan atribut salah satu bakal calon ketua umum, yaitu Gus Yusuf. Atribut tersebut berupa kaos putih yang sengaja dipakai secara terbalik, namun gambar bakal calon tersebut tetap terlihat.
Polisi Selidiki Temuan Jasad Bayi Laki-Laki Diduga Digigit Anjing di Sumedang

Pembubaran Massa dan Pemindahan ke Jembatan Makam Mbah Hamid
Melihat situasi yang tidak kondusif, petugas keamanan mengambil tindakan tegas dengan mendorong mundur kelompok perusuh dari area barat tenda utama. Langkah ini dilakukan untuk memastikan jalannya sidang pleno di dalam tenda tidak terganggu lebih jauh.
Setelah dipukul mundur oleh petugas keamanan dari area barat tenda, kelompok tersebut bergeser menjauhi area utama. Mereka kemudian memindahkan titik kumpul ke jembatan makam Kiai Haji Abdul Hamid Hasbullah (Mbah Hamid).
Merespons dinamika yang terjadi, Savic Ali menyatakan harapannya agar mekanisme pemilihan Rais Aam melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dapat berjalan lancar demi menghasilkan pemimpin yang independen. PBNU berharap keputusan yang diambil oleh AHWA didasarkan pada pertimbangan jangka panjang demi kemaslahatan organisasi.






