Perhelatan Kirab Pawai Budaya Ancak Agung Jember 2026 yang diselenggarakan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berakhir dengan kericuhan. Acara yang awalnya berjalan dengan rapi dan tertib tersebut mendadak berubah menjadi berantakan setelah ratusan warga nekat menjarah isi gunungan hasil bumi yang dibawa oleh para peserta.
Tradisi adat Ancak Agung ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, kekhidmatan acara keagamaan ini terganggu akibat aksi saling berebut hasil bumi yang dilakukan oleh warga sebelum seluruh rangkaian prosesi resmi selesai dilaksanakan.
Kronologi Awal Kegiatan Kirab
Rangkaian upacara Kirab Pawai Budaya Ancak Agung Jember 2026 ini dimulai pada hari Sabtu, 22 Agustus 2026. Upacara adat tersebut resmi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB.
Istana Bantah Isu Prabowo Tunjuk Haji Isam Jadi Koordinator Penanganan Karhutla

Pada awal jalannya acara, iring-iringan peserta yang membawa gunungan berisi berbagai macam hasil bumi sempat berjalan dengan rapi. Para peserta berbaris dengan tertib mengikuti rute yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara.
Penyebab Kericuhan di Alun-Alun Jember Nusantara
Situasi yang awalnya kondusif mulai berubah ketika rombongan peserta kirab memasuki area Alun-Alun Jember Nusantara. Di lokasi inilah kericuhan pertama kali pecah dan membuat suasana menjadi tidak terkendali.
Faktor utama yang memicu terjadinya kericuhan ini adalah hilangnya pagar pembatas besi di sekitar area Alun-Alun Jember Nusantara. Ketiadaan pagar pembatas besi tersebut membuat tidak ada penghalang fisik antara peserta kirab dan warga yang menonton. Akibatnya, ratusan warga yang berada di lokasi nekat merangsek masuk ke dalam barisan pawai untuk mendekati gunungan hasil bumi.
26 Hari Terdampar di Samudra Pasifik, Nelayan Asal Ternate Ditemukan Kapal Lewat

Penjarahan Sebelum Doa dan Penilaian Selesai
Setelah berhasil merangsek masuk karena tidak adanya pagar pembatas besi, ratusan warga langsung berebut dan menjarah isi gunungan hasil bumi yang dibawa peserta kirab. Aksi penjarahan ini terjadi sebelum prosesi doa bersama selesai digelar oleh panitia.
Tidak hanya itu, warga juga sudah mulai berebut isi gunungan sebelum proses penilaian oleh tim juri selesai dilaksanakan. Akibat aksi penjarahan yang tidak terkendali ini, acara adat yang seharusnya berlangsung dengan khidmat dan tertib dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut terpaksa berakhir dengan kondisi yang ricuh dan berantakan.






