Esau Sidemo (57), seorang nelayan asal Desa Bido, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, akhirnya berhasil kembali ke kampung halamannya pada Minggu (23/8/2026). Kepulangan ini mengakhiri masa-masa kritis setelah dirinya terombang-ambing di lautan lepas selama 26 hari akibat mengalami mati mesin.
Kronologi Hanyut hingga 800 Mil ke Samudra Pasifik
Perjalanan berat Esau bermula pada 7 Juli 2026 ketika ia berangkat melaut dari Pulau Batang Dua. Di tengah laut, perahu yang digunakannya mengalami kerusakan mesin sehingga kehilangan kendali. Tanpa adanya mesin yang berfungsi, perahu Esau terseret arus laut hingga menjauh sekitar 800 mil ke arah Samudra Pasifik.
Selama terdampar, ia tidak dapat menghubungi siapa pun karena tidak membawa telepon seluler. Selain itu, perbekalan yang dibawanya sangat minim. Esau hanya mengantongi sekitar satu liter air mineral tanpa membawa persediaan makanan sama sekali.
Cara Bertahan Hidup di Tengah Lautan
Untuk menyambung hidup selama hampir sebulan di perairan lepas, Esau terpaksa mengonsumsi apa saja yang hanyut di sekitarnya. Ia memakan buah kelapa busuk yang terapung di laut, menangkap ikan, hingga menangkap burung yang hinggap di perahunya.
Gubernur NTB, Restorasi Kampung Adat Sade Pascakebakaran Butuh Biaya Besar

Kondisi tanpa air bersih juga memaksanya melakukan tindakan ekstrem demi mencegah dehidrasi. Selain menampung air hujan, Esau mengaku harus meminum air laut serta urinenya sendiri agar tetap bertahan hidup di bawah terik matahari Samudra Pasifik.
Evakuasi oleh Kapal LNG Endeavour dan Pemulangan dari China
Upaya penyelamatan akhirnya datang pada 1 Agustus 2026. Sebuah kapal tanker berbendera Prancis, LNG Endeavour, yang sedang berlayar dari Australia menuju China melintas di jalur perahu Esau.
Melihat keberadaan kapal tersebut, Esau berinisiatif melompat ke laut sebelum kru kapal melemparkan pelampung penyelamat. Setelah berhasil meraih pelampung tersebut, ia dievakuasi ke atas kapal dengan selamat.
Esau kemudian ikut berlayar di atas kapal LNG Endeavour selama 12 hari hingga kapal tersebut bersandar di China. Setibanya di sana, pihak Kepolisian dan Imigrasi setempat membantu menurunkannya dari kapal, sebelum akhirnya ia dijemput oleh perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Prabowo Panggil Panglima TNI dan Kepala Staf, Bahas Karhutla Kalimantan serta Gempa NTT

Sebelum dipulangkan ke tanah air, Esau menjalani pemeriksaan kesehatan di Shanghai untuk memastikan kondisinya. Setelah tim medis menyatakan dirinya berada dalam kondisi baik dan layak melakukan penerbangan, Esau diberangkatkan dari Bandara Internasional Shanghai Pudong menuju Jakarta pada 14 Agustus 2026.
Kepulangan ke Ternate dan Kunjungan Kapolda
Setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi dan pemulihan, Esau akhirnya tiba di Ternate pada Minggu (23/8/2026). Ia langsung dibawa ke rumah salah satu kerabatnya di Kelurahan Tubo, Ternate, untuk bertemu kembali dengan pihak keluarga.
Kabar selamatnya Esau mendapat perhatian dari pihak kepolisian setempat. Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Arif Budiman, mengunjungi langsung kediaman kerabat Esau di Kelurahan Tubo untuk memantau kondisi fisik dan psikis nelayan tersebut setelah melewati masa-masa sulit di lautan lepas.






