Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia kini tengah mendorong percepatan penyehatan keuangan di sektor konstruksi pelat merah. Langkah ini diambil guna mempersiapkan emiten-emiten tersebut sebelum melangkah ke tahap penggabungan. Dalam prosesnya, program Restrukturisasi BUMN karya Kementerian BUMN menghadapi tantangan berat akibat tumpukan utang dan rumitnya struktur anak perusahaan.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, secara langsung menemui jajaran direksi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk mematangkan strategi pembenahan keuangan. Menurut Dony, pemulihan kinerja korporasi harus diawali dengan transparansi neraca keuangan agar pemetaan kapasitas serta beban riil perusahaan dapat dilakukan secara konkret.
Tantangan Utang Ratusan Triliun dan Gurita Anak Usaha
Upaya membenahi sektor konstruksi ini menghadapi kendala yang cukup kompleks. Danantara mengakui adanya kesulitan dalam mengurai benang kusut keuangan BUMN Karya karena cakupan masalahnya yang sangat luas. Secara keseluruhan, total utang di sektor ini dilaporkan menembus angka ratusan triliun rupiah.
PNM Gelar Grand Final PORSENI 2026 di BRILiaN Stadium

Selain beban liabilitas yang besar di tingkat induk, masalah finansial juga menjalar hingga ke tingkat anak usaha. Dony membeberkan bahwa beberapa holding BUMN Karya memiliki lebih dari 20 anak perusahaan yang juga mengalami masalah keuangan. Sebagai contoh, kerumitan ini terlihat pada kasus LRT City yang dikembangkan oleh PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), serta permasalahan yang dihadapi oleh WIKA Realty.
Meskipun situasinya mendesak, Danantara memilih untuk menghindari opsi instan seperti langsung melakukan penggabungan atau memailitkan perusahaan. Keputusan tersebut diambil demi menjaga stabilitas ekosistem industri konstruksi nasional agar tidak terkena dampak negatif yang lebih luas. Sebagai bagian dari proses transformasi yang sedang berjalan, Dony bahkan menyebut adanya potensi bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk untuk melakukan delisting dari bursa saham.
Langkah Nyata Waskita Karya Mengurai Beban Finansial
Di sisi lain, upaya percepatan transformasi juga tengah berjalan di tubuh PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Perusahaan konstruksi ini terus mempercepat program restrukturisasinya sesuai dengan arahan yang diberikan oleh BP BUMN dan Danantara.
96 Ribu Turis Asing Naik Kereta dalam Sebulan, Paling Banyak dari Stasiun Ini

Waskita telah merealisasikan sejumlah langkah restrukturisasi konkret. Salah satunya melalui kesepakatan Master Restructuring Agreement (MRA) serta perubahan fasilitas Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP). Langkah penyelamatan finansial ini telah efektif berjalan sejak Oktober 2024 dengan nilai outstanding mencapai Rp31,65 triliun.
Tidak hanya itu, Waskita juga berhasil merestrukturisasi tiga dari empat seri obligasi Non-Penjaminan yang bernilai Rp3,35 triliun. Kesepakatan atas obligasi ini telah mendapat persetujuan dan dinyatakan efektif sejak Maret 2024. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan beban finansial perusahaan dapat ditekan secara bertahap demi mendukung pemulihan jangka panjang sektor konstruksi nasional.






