Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan bantuan medis darurat pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Langkah ini diambil untuk menangani para korban terdampak yang mengalami luka fisik maupun trauma psikologis di ratusan titik pengungsian.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono memaparkan bahwa total populasi warga yang terdampak bencana ini hampir mencapai 2 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 176.000 warga kini mengungsi di 533 lokasi pengungsian. Gempa tersebut secara langsung menyebabkan 111 orang meninggal dunia. Sementara itu, akumulasi korban jiwa termasuk pasien yang meninggal selama masa perawatan kini mencapai 162 orang, dengan 19 orang di antaranya meninggal saat dirawat di tujuh rumah sakit rujukan.
Kategori Pasien dan Jenis Cedera
Pelayanan medis di lapangan terus dioptimalkan untuk merawat sekitar 15.000 pasien. Kemenkes mengidentifikasi kondisi pasien di puskesmas dan posko pengungsian ke dalam tiga kategori utama. Sebanyak 187 pasien masuk dalam kategori merah (gawat darurat dan kritis), sekitar 900 pasien berkategori kuning (darurat stabil), dan 13.800 pasien berkategori hijau (tidak darurat tetapi membutuhkan pelayanan medis). Sejauh ini, tercatat ada 213 korban luka berat dan sekitar 1.300 korban luka ringan yang membutuhkan penanganan.
Dukcapil Jemput Bola Layani Dokumen Korban Gempa di Nagekeo

Kasus cedera fisik yang paling banyak ditangani oleh tim medis meliputi cedera kepala, patah tulang terbuka, trauma tulang belakang, trauma tumpul pada bagian dada, serta luka bakar. Selain ancaman fisik, pemulihan kesehatan mental juga menjadi perhatian akibat guncangan gempa susulan yang sempat mencapai magnitudo terbesar 6,6. Guna membantu mengatasi persoalan psikologis warga, sejumlah universitas telah mengirimkan relawan ke lokasi pengungsian.
Pengerahan Tenaga Medis dan Fasilitas Lapangan
Hingga saat ini, Kemenkes telah mendistribusikan 210 dokter umum, 149 perawat, dan 68 dokter spesialis ke wilayah terdampak. Untuk mempercepat evakuasi di daerah yang sulit dijangkau, Kemenkes bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk melakukan evakuasi menggunakan helikopter. Rumah sakit lapangan dengan fasilitas kamar operasi steril yang dilengkapi tekanan udara negatif dan HEPA filter juga disiapkan untuk menangani tindakan bedah darurat.
Prabowo Terima Tokoh Dayak Panglima Jilah Bahas Kebakaran Hutan Kalimantan

Setelah minggu kedua pascabencana, seluruh fasilitas kesehatan yang terdampak dilaporkan telah kembali beroperasi. Pelayanan kesehatan sebagian dilakukan di luar gedung menggunakan tenda medis karena ancaman gempa susulan masih membayangi. Di tengah situasi darurat ini, sekitar 20 bayi lahir dengan selamat di tenda pengungsian selama dua pekan terakhir.
Sebagai bentuk dukungan bagi para relawan kesehatan yang bertugas, Kemenkes memberikan uang harian, kebutuhan makan, serta sertifikat Satuan Kredit Profesi (SKP) kepada para relawan.






