Layar gawai kini menjelma menjadi cermin yang memperlihatkan jurang pemisah antara penguasa dan rakyat. Belakangan ini, jagat maya kerap dihebohkan oleh aksi pamer kemewahan yang dilakukan oleh sejumlah pejabat negara melalui akun pribadi mereka. Mulai dari kepemilikan tunggangan premium, koleksi barang-barang bermerek kelas atas, hingga destinasi liburan yang serba eksklusif. Bagi sebagian pihak, hal ini dianggap sebagai hak privat atas hasil kerja keras yang sah. Namun bagi masyarakat luas yang tengah berjuang menghadapi impitan ekonomi serta ketidakpastian lapangan kerja, tayangan visual tersebut menjadi ironi yang menyakitkan sekaligus memicu gugatan moral.
Sorotan tajam dari publik ini sebenarnya tidak lagi berkutat pada kepantasan seorang abdi negara memiliki kekayaan melimpah. Isu yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana kehadiran media sosial








