Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada perdagangan Selasa pagi, setelah sempat mengalami tekanan hebat pada awal pekan. Pergerakan positif ini didorong oleh kombinasi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta menyusutnya cadangan minyak darurat Amerika Serikat.
Berdasarkan data perdagangan pada Selasa (25/8/2026) pukul 09.12 WIB, harga minyak mentah Brent terpantau menguat 0,58% ke level US$ 92,71 per barel. Langkah serupa diikuti oleh minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) yang menanjak 0,71% ke posisi US$ 85,61 per barel.
Kenaikan ini membalikkan arah pergerakan dari hari sebelumnya. Pada perdagangan Senin (24/8/2026), harga minyak sempat tertekan cukup dalam dengan Brent yang jatuh 2,35% ke level US$ 92,17 per barel, sedangkan WTI anjlok 2,4% ke level US$ 85,01 per barel.
Optimalisasi Gas Domestik Terkendala Infrastruktur dan Kepastian Pasar

Insiden Tanker di Oman dan Ketegangan Geopolitik
Faktor utama yang memicu rebound harga minyak ini adalah kekhawatiran baru atas gangguan pasokan di jalur pelayaran global. United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah insiden keamanan yang melibatkan kapal tanker minyak pada Selasa (25/8/2026). Kapal tersebut dilaporkan mengalami kerusakan akibat terkena proyektil yang belum teridentifikasi di posisi sekitar 9 mil laut atau setara 16,7 kilometer di sebelah timur laut Ash Shishah, Oman.
Insiden di dekat Selat Hormuz ini langsung memicu respons pasar. Sebelum perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati kargo pengapalan minyak dengan volume setara 20% dari total konsumsi minyak global.
Ketegangan politik juga terus meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi pada hari Senin untuk memotong sumber daya ekonomi Iran. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Washington tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Iran, meskipun fokus saat ini masih diarahkan pada tekanan ekonomi. Dinamika ini terus dipantau secara ketat oleh para analis pasar keuangan, termasuk Tim Waterer yang merupakan chief market analyst di KCM.
Galeri 24 Buka Lelang Relokasi dan Renovasi Pabrik Senilai Rp 95,15 Miliar

Cadangan Minyak Darurat AS Merosot ke Level Terendah Sejak 1982
Selain faktor geopolitik di Timur Tengah, dorongan terhadap kenaikan harga minyak juga datang dari laporan persediaan minyak domestik Amerika Serikat. Departemen Energi AS melaporkan bahwa stok minyak mentah dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) negara tersebut turun sekitar 3,7 juta barel pada pekan lalu.
Penurunan ini membawa volume cadangan minyak darurat AS menyusut hingga ke level 289,7 juta barel. Angka cadangan tersebut tercatat sebagai level terendah yang pernah dialami AS sejak November 1982. Menyusutnya cadangan minyak darurat ini menambah kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan pasokan global di tengah ketidakpastian situasi geopolitik saat ini.






