Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan di Provinsi Riau memicu kekhawatiran besar. Peristiwa kebakaran yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan ini mengancam kelestarian habitat satwa liar yang dilindungi, khususnya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). SM Kerumutan dikenal sebagai salah satu wilayah konservasi penting yang menjadi rumah bagi satwa-satwa terancam punah tersebut.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengungkapkan bahwa hingga Selasa (25/8), pihaknya belum menemukan adanya satwa liar yang terdampak langsung oleh kobaran api. Kendati demikian, upaya antisipasi dan pemantauan terus diperketat agar dampak kebakaran tidak meluas dan merusak habitat satwa di dalam suaka margasatwa.
Ancaman Terhadap Habitat Harimau Sumatera
Sebagai salah satu habitat penting bagi Harimau Sumatera, kelestarian ekosistem di SM Kerumutan sangat krusial. Kebakaran yang terjadi di dalam kawasan ini dikhawatirkan dapat merusak ruang hidup satwa dilindungi tersebut jika tidak segera ditangani sepenuhnya. BBKSDA Riau memperkirakan luas kawasan yang terbakar saat ini telah mencapai sekitar lima hektare.
Jasad Pria Hangus Terbakar Ditemukan di Tumpukan Limbah Kayu di Tambun Selatan

Titik api utama dilaporkan berada di kawasan lahan gambut yang memiliki vegetasi hutan cukup rapat. Kondisi ini membuat api dengan cepat menjalar di bawah permukaan tanah, sehingga menyulitkan pendeteksian dan pemadaman secara total.
Kendala Pemadaman dan Bara di Lahan Gambut
Upaya pemadaman sejatinya telah dilakukan secara intensif. Satgas Udara sebelumnya telah dikerahkan untuk melakukan operasi pengeboman air atau water bombing. Upaya tersebut sempat membuahkan hasil pada hari Jumat dan Sabtu pekan lalu, di mana titik api sempat dinyatakan padam.
Namun, pemadaman di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api kembali muncul ke permukaan akibat bara yang masih tersimpan di dalam lapisan gambut yang dalam. Kondisi ini diperparah oleh faktor cuaca panas serta hembusan angin yang kencang, yang dengan cepat memicu kembali kepulan asap dan kobaran api dari sisa-sisa bara tersebut.
Dinas SDA DKI Jakarta Jelaskan Alasan Pembongkaran Jembatan di Tegal Alur Kalideres

Selain faktor karakteristik lahan, tim di lapangan juga menghadapi kendala aksesibilitas yang sangat berat. Jarak tempuh melalui jalur darat dari batas luar kawasan konservasi menuju lokasi titik api di dalam SM Kerumutan diperkirakan mencapai sekitar 32 kilometer. Jauhnya jarak dan rapatnya vegetasi hutan membuat tim darat harus bekerja ekstra keras untuk menjangkau lokasi.
Tidak hanya di dalam kawasan, potensi ancaman juga datang dari luar kawasan konservasi. Berdasarkan pantauan, terdapat pula titik kebakaran yang berlokasi di luar kawasan SM Kerumutan, dengan jarak diperkirakan sekitar 12 kilometer dari batas luar suaka margasatwa tersebut. BBKSDA Riau bersama pihak terkait terus berkoordinasi untuk meminimalkan penyebaran api demi melindungi kawasan konservasi penting ini.






