Lonceng pulang bagi siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 11 adalah lonceng masuk bagi teman-teman mereka dari SDN 09. Pukul setengah satu siang adalah waktu peralihan di sekolah ini: siswa kelas pagi berangsur meninggalkan bangku, sementara siswa kelas sore mulai mengisi ruang yang sama. Sejak kamis kelabu di akhir 2024, dua komunitas sekolah ini terpaksa menjalani rutinitas silih berganti di bawah satu atap.
Musibah itu datang tanpa aba-aba. Ruang kelas SDN Kebayoran Lama Selatan 09 ambruk tepat pada momen libur pemilihan kepala daerah, ketika para siswa sedang menikmati jeda dari buku dan papan tulis. Penjaga sekolah yang pertama kali mendapati keretakan bangunan segera melapor ke sekolah. Langkah cepat diambil: kepala sekolah tidak menunggu lama untuk memindahkan seluruh kegiatan belajar mengajar ke gedung tetangga. Beruntung, tidak ada satu pun siswa yang terluka atau tertimpa reruntuhan.
Di balik ketenangan yang terlihat, ada denyut kolaborasi yang mengagumkan antara dua kepala sekolah. Arma Yeni, kepala SDN 11, dengan terbuka menerima rombongan darurat itu. Sejak awal 2025, meja dan kursi di ruang-ruang kelasnya digunakan bergantian: pagi untuk muridnya sendiri, sore untuk murid Kenhayati Dwi Rahmini dari SDN 09. Jam operasional berubah menjadi dua shift: pukul 06.30 hingga sekitar 12.30 untuk SDN 11, lalu jeda setengah jam yang cukup untuk membersihkan papan dan menyiapkan alat tulis, sebelum pukul 13.00 hingga 17.00 giliran SDN 09 memanfaatkan ruang yang sama.
Gema Pembaruan dari Sudut Kelas, 131 Pelita Menanti Wajah Baru SDN Tanggirejo

Tempo menyusuri jalan kecil penghubung antara dua gedung sekolah yang hanya dibatasi oleh jarak beberapa langkah. Seorang guru terlihat bolak-balik, mungkin membawa materi ajar atau sekadar memeriksa kehadiran. Tak ada kemewahan, namun ada disiplin tinggi yang menjaga denyut pembelajaran tetap stabil. "Kami memastikan jam pembelajaran tetap terpenuhi sesuai standar," ujar Kenhayati. Bahkan kegiatan ekstrakurikuler – yang biasanya menjadi milik senja hari – kini disiasati dengan mengambil waktu di pagi hari sebelum jam pelajaran inti dimulai. Siswa kelas I hingga VI semuanya tertampung, dan semangat belajar mereka pantang surut.
Satu pertanyaan menggantung hingga kini: kapan gedung SDN 09 akan berdiri kembali? Baik Arma maupun Kenhayati sama-sama belum bisa memberikan jawaban pasti. Sebab, keputusan dan anggaran perbaikan sepenuhnya berada di tangan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Penjelasan teknis tentang penyebab ambruknya bangunan juga diserahkan kepada tim analisis tersendiri, bukan oleh pihak sekolah. Mereka memilih fokus pada hal yang bisa dikendalikan: memastikan setiap anak tetap mendapat haknya untuk belajar, bertanya, dan tertawa di ruang kelas – meski harus bergantian dengan senja.
Di Balik Senyap Lapangan Upacara, Suara Hati Para Guru di Hari Senin Baru

Di tengah ketidakpastian renovasi, dua sekolah ini mengajarkan satu hal: infrastruktur boleh roboh, tetapi ketangguhan sebuah komunitas pendidikan lebih kuat daripada tiang mana pun. Sambil menanti kabar dari otoritas yang lebih tinggi, para guru dan siswa terus menulis cerita tentang bagaimana belajar bukan soal dinding kokoh, melainkan soal hati yang tak mudah menyerah.






