Bagaimana kondisi terkini para korban dan pengungsi pascabencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT)? Pertanyaan ini menjadi perhatian utama publik seiring dengan upaya penanganan darurat yang terus berjalan di lapangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merilis pemutakhiran data terbaru mengenai dampak kerusakan, jumlah korban jiwa, serta kondisi terkini di posko-posko pengungsian. Berdasarkan rilis resmi tersebut, tajuk utama yang menjadi fokus perhatian adalah BNPB Update Korban Gempa NTT: 91 Orang Meninggal, 161 Ribu Warga Mengungsi.
Angka-angka ini mencerminkan skala dampak bencana yang sangat masif dan memerlukan penanganan cepat serta terkoordinasi dari berbagai pihak. Hingga hari Minggu, 23 Agustus 2026, situasi di lapangan menunjukkan bahwa ribuan warga masih bertahan di pos-pos pengungsian darurat dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada. BNPB bersama instansi terkait terus melakukan pendataan untuk memastikan bantuan logistik dan medis tersalurkan secara merata ke seluruh titik terdampak.
Rincian Korban Meninggal Dunia dan Sebarannya di Berbagai Kabupaten
Data terbaru yang dihimpun oleh BNPB menunjukkan eskalasi jumlah korban jiwa akibat bencana ini. Hingga pukul 16.00 WIB pada hari Minggu, 23 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia tercatat telah mencapai 91 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 4 orang jika dibandingkan dengan laporan data pada hari sebelumnya. Penambahan angka fatalitas ini menunjukkan bahwa proses pencarian, evakuasi, serta penanganan medis terhadap korban luka berat masih terus berjalan di berbagai wilayah terdampak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi data tersebut. Distribusi korban meninggal dunia tersebar di beberapa kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur dengan rincian sebagai berikut: - Kabupaten Manggarai mencatat angka kematian tertinggi dengan jumlah 32 orang. - Kabupaten Manggarai Timur menyusul dengan korban meninggal sebanyak 31 orang. - Kabupaten Nagekeo mencatat 14 orang meninggal dunia. - Kabupaten Sikka melaporkan 6 korban jiwa. - Kabupaten Ngada mencatat 5 orang meninggal dunia. - Kabupaten Ende melaporkan 2 korban jiwa. - Kabupaten Manggarai Barat mencatat 1 korban meninggal dunia.
Dari keseluruhan 91 korban meninggal dunia yang telah terdata, klasifikasi berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa 40 korban berjenis kelamin laki-laki dan 48 korban berjenis kelamin perempuan. Sementara itu, terdapat 3 korban meninggal dunia yang hingga saat ini masih berada dalam tahap identifikasi oleh tim medis dan pihak berwenang di lapangan. Proses identifikasi ini memerlukan ketelitian guna memastikan identitas asli korban sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Apabila ditinjau berdasarkan kelompok usia, profil korban meninggal dunia didominasi oleh kelompok rentan. Tercatat sebanyak 39 korban merupakan lanjut usia (lansia), yang secara fisik memiliki keterbatasan mobilitas saat bencana terjadi. Selain itu, terdapat 4 korban yang merupakan bayi di bawah tiga tahun (batita), 1 korban balita (bawah lima tahun), 12 korban dari kalangan anak-anak dan remaja, serta 35 korban dari kelompok usia dewasa. Tingginya angka korban pada kelompok lansia dan anak-anak menekankan perlunya perhatian khusus terhadap evakuasi kelompok rentan pada saat tanggap darurat bencana.
Analisis Penyebab Kematian Korban Langsung dan Tidak Langsung
Dalam laporannya, BNPB membagi penyebab kematian para korban menjadi dua kategori utama, yakni dampak langsung dan dampak tidak langsung dari gempa bumi. Pembagian ini memberikan gambaran penting mengenai risiko fisik yang dihadapi warga saat gempa terjadi serta kerentanan yang muncul setelah guncangan mereda.
Menurut catatan resmi BNPB, sebanyak 51 persen dari total korban meninggal dunia disebabkan oleh dampak langsung gempa bumi. Sebagian besar dari korban dalam kategori ini kehilangan nyawa akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh saat guncangan gempa terjadi. Struktur bangunan yang kurang ramah gempa atau posisi korban yang berada di dalam ruangan saat bencana menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko fatalitas langsung ini.
Di sisi lain, sebanyak 49 persen korban lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung dari gempa bumi. Kematian tidak langsung ini dapat dipicu oleh berbagai faktor pascagempa, seperti memburuknya kondisi kesehatan akibat penyakit bawaan yang kambuh karena stres berat, keterlambatan penanganan medis darurat akibat akses transportasi yang terputus, hingga kondisi lingkungan pengungsian yang kurang memadai bagi pasien dengan kondisi medis khusus. Data ini menunjukkan bahwa keselamatan warga tidak hanya terancam pada detik-detik terjadinya gempa, melainkan juga pada fase pemulihan dan penampungan darurat yang menuntut kesiapan layanan kesehatan pascabencana.
Trauma Gempa Susulan, Warga Manggarai Timur Bertahan di Tenda Darurat

Ribuan Warga Mengalami Luka-Luka dan Wilayah yang Paling Terdampak
Selain korban jiwa, bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur ini juga mengakibatkan ribuan warga mengalami luka-luka, baik luka ringan maupun luka berat yang membutuhkan perawatan intensif. Secara keseluruhan, BNPB mencatat sebanyak 1.286 orang mengalami luka-luka akibat bencana ini. Para korban luka tersebut saat ini tersebar di berbagai fasilitas kesehatan, posko medis darurat, dan tenda-tenda perawatan sementara.
Jika melihat sebaran wilayahnya, Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak, yaitu mencapai 643 orang. Wilayah ini mengalami dampak kerusakan infrastruktur yang cukup parah, sehingga memicu tingginya angka cedera fisik pada warga setempat. Menyusul di posisi kedua adalah Kabupaten Manggarai Barat dengan jumlah korban luka sebanyak 504 orang.
Banyaknya korban luka di kedua kabupaten tersebut memberikan tekanan yang sangat besar pada fasilitas kesehatan setempat. Rumah sakit daerah dan puskesmas di Manggarai Timur dan Manggarai Barat harus bekerja ekstra keras dengan kapasitas yang terbatas untuk menangani ratusan pasien yang datang dalam waktu bersamaan. Kondisi ini memicu kebutuhan mendesak akan pasokan obat-obatan, peralatan medis darurat, serta ruang perawatan tambahan di lapangan.
Kondisi Pengungsian Massal dan Sebaran Warga yang Kehilangan Tempat Tinggal
Kerusakan bangunan rumah tinggal yang masif memaksa sebagian besar warga untuk meninggalkan kediaman mereka dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman. Hingga hari Minggu, 23 Agustus 2026, total warga yang mengungsi akibat bencana gempa bumi ini telah menembus angka 161.084 orang. Jumlah pengungsi yang sangat besar ini tersebar di ratusan titik pengungsian, mulai dari tenda darurat, gedung pemerintah, tempat ibadah, hingga lapangan terbuka.
Sebaran pengungsi di tingkat kabupaten menunjukkan konsentrasi massa yang sangat padat di beberapa titik utama: - Kabupaten Manggarai menampung jumlah pengungsi terbanyak dengan total 46.519 orang. - Kabupaten Nagekeo berada di posisi kedua dengan jumlah pengungsi sebanyak 36.256 orang. - Kabupaten Manggarai Timur menampung sebanyak 31.372 pengungsi.
Konsentrasi pengungsi yang mencapai puluhan ribu orang di setiap kabupaten ini menimbulkan tantangan logistik yang sangat kompleks. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan siap saji, selimut, pakaian layak pakai, serta fasilitas sanitasi menjadi prioritas utama yang harus segera dipenuhi oleh pemerintah daerah dan BNPB. Di beberapa wilayah, keterbatasan akses jalan akibat longsoran tanah atau kerusakan jembatan sempat menghambat distribusi bantuan ke posko-posko pengungsian yang letaknya terpencil. Sebagai contoh visual di lapangan, sejumlah anak-anak sempat terekam kamera sedang mengambil air bersih di dekat tenda pengungsian darurat di wilayah Dampek, Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, pada hari Sabtu, 22 Agustus 2026. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya pasokan air bersih bagi keberlangsungan hidup para penyintas, terutama anak-anak, di tengah situasi darurat.
Ancaman Penyakit Menular dan Kasus Gigitan Hewan di Posko Pengungsian
Tinggal di posko pengungsian dengan fasilitas sanitasi yang terbatas dan kepadatan penduduk yang tinggi membawa konsekuensi logis berupa penurunan tingkat kesehatan para penyintas. BNPB melaporkan munculnya berbagai gangguan kesehatan di kalangan pengungsi, dengan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menempati urutan pertama sebagai penyakit dengan kasus terbanyak. Hingga laporan ini diturunkan, tercatat ada 3.721 kasus ISPA yang menyerang para pengungsi di berbagai posko. Debu reruntuhan, cuaca dingin di malam hari, serta kurangnya sirkulasi udara yang baik di dalam tenda pengungsian mempercepat penularan penyakit saluran pernapasan ini, terutama pada anak-anak dan lansia.
Selain ancaman penyakit pernapasan, tim medis di lapangan juga dihadapkan pada ancaman kesehatan lain yang cukup spesifik dan berbahaya. Tercatat ada 15 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) yang menimpa warga di posko pengungsian. Kasus-kasus gigitan hewan ini dilaporkan berasal dari wilayah Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Manggarai Timur.
BNPB Ungkap Sebaran Titik Panas dan Kendala Pemadaman Karhutla di Kalimantan dan Sumatera

Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan dari dinas kesehatan setempat untuk menyediakan vaksin anti-rabies (VAR) serta melakukan penanganan cepat terhadap korban gigitan guna mencegah fatalitas akibat virus rabies. Kepadatan di area pengungsian yang sering kali bercampur dengan hewan peliharaan atau hewan liar di sekitar tenda meningkatkan risiko interaksi negatif antara manusia dan hewan, sehingga pengawasan terhadap kebersihan lingkungan pengungsian harus diperketat.
Kebutuhan Tenaga Kesehatan dan Defisit Petugas Medis di Lapangan
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus penyakit dan memberikan perawatan medis bagi korban luka-luka, pengerahan tenaga kesehatan dilakukan secara besar-besaran. Hingga saat ini, sebanyak 11.106 tenaga kesehatan telah diterjunkan dan aktif bekerja di lapangan untuk membantu para penyintas gempa di NTT. Mereka bertugas di posko-posko kesehatan darurat, puskesmas keliling, serta rumah sakit rujukan di seluruh wilayah terdampak.
Kendati jumlah tenaga kesehatan yang dikerahkan sudah mencapai belasan ribu orang, BNPB mencatat masih terjadi kekurangan atau defisit personel medis di lapangan. Terdapat kebutuhan tambahan sebanyak 133 tenaga kesehatan spesifik yang sangat mendesak untuk segera dipenuhi. Defisit ini mencakup beberapa profesi medis vital, antara lain: - Dokter umum untuk pelayanan kesehatan dasar di posko-posko pengungsian. - Dokter spesialis (seperti spesialis bedah dan ortopedi) untuk menangani korban luka berat akibat runtuhan bangunan. - Perawat untuk membantu perawatan pasien rawat inap darurat. - Perawat anestesi yang dibutuhkan dalam tindakan operasi bedah darurat. - Apoteker untuk mengelola distribusi obat-obatan di posko kesehatan agar tidak terjadi kelangkaan obat esensial.
Kekurangan tenaga medis ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas layanan kesehatan di daerah bencana. Pemerintah terus berkoordinasi dengan asosiasi profesi kesehatan dan kementerian terkait untuk mendatangkan bantuan tenaga medis tambahan dari luar wilayah Nusa Tenggara Timur guna mengisi kekosongan tersebut.
Keterbatasan Data dan Ketidakpastian Proses Identifikasi Korban
Dalam setiap situasi darurat bencana alam skala besar, akurasi data merupakan aspek yang sangat dinamis dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Laporan terkini yang dirilis oleh BNPB mengenai dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur ini disusun berdasarkan verifikasi lapangan hingga batas waktu pelaporan pada Minggu sore. Namun, terdapat beberapa keterbatasan material dan ketidakpastian data yang perlu dipahami oleh publik.
Salah satu keterbatasan utama adalah masih adanya 3 korban meninggal dunia yang belum teridentifikasi secara resmi. Proses pencocokan data identitas, pemeriksaan fisik, serta konfirmasi dengan anggota keluarga yang merasa kehilangan kerabat masih terus berlangsung. Selama proses identifikasi ini belum selesai, nama dan asal daerah ketiga korban tersebut belum dapat dimasukkan ke dalam basis data detail korban per kabupaten secara definitif.
Selain itu, mengingat luasnya wilayah terdampak dan adanya beberapa daerah yang sempat terisolasi akibat kerusakan infrastruktur jalan, proses pemutakhiran data korban luka-luka maupun pengungsi masih berpotensi mengalami perubahan. BNPB dan instansi penanggulangan bencana di daerah terus melakukan validasi berjenjang guna meminimalkan risiko kesalahan data ganda atau data yang tidak tercatat. Informasi resmi akan terus diperbarui secara berkala seiring dengan masuknya laporan terbaru dari tim evakuasi yang menjangkau wilayah-wilayah terpencil di NTT.






