Tren perawatan estetika asal Korea Selatan terus mendominasi pasar kecantikan di Indonesia secara signifikan. Pengaruh budaya populer dan standar kecantikan dari Negeri Ginseng tersebut mendorong tingginya minat masyarakat tanah air terhadap berbagai prosedur estetika medis. Kendati demikian, penerapan standar estetika asal Korea Selatan ini tidak dapat diadopsi secara mentah-mentah begitu saja. Adanya perbedaan mendasar pada karakteristik kulit, kondisi lingkungan tropis, hingga pola gaya hidup masyarakat Indonesia menuntut adanya penyesuaian protokol medis yang cermat agar hasil perawatan yang diperoleh pasien di tanah air bisa tetap optimal, aman, dan minim risiko efek samping.
Sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan adaptasi tersebut, OORA Skinlabs yang berada di bawah naungan PT Made for Ayura hadir di industri kecantikan tanah air. Dikenal sebagai klinik estetika berstandar Korea pertama di Jakarta yang menawarkan pendekatan personal, klinik ini berkomitmen memberikan solusi yang disesuaikan dengan keunikan kulit masing-masing individu. Sejak mulai beroperasi pada Mei 2026, klinik ini tercatat telah memeriksa lebih dari 1.000 konsumen dengan memanfaatkan sistem konsultasi inovatif bernama Glow Profile. Melalui pemeriksaan menyeluruh ini, kondisi kulit pasien dievaluasi secara mendalam berdasarkan 13 faktor klinis yang berbeda, termasuk tingkat kelembapan, kondisi pertahanan kulit (skin barrier), hingga suhu kulit, guna menentukan prosedur perawatan yang paling tepat dan aman bagi setiap pasien.
Perak Jadi Primadona Baru di Tengah Reli Logam Mulia 2026

Pendekatan personal ini juga ditegaskan oleh Tina Yura Hsu selaku Founder dan CEO OORA Skinlabs. Beliau menjelaskan bahwa penerapan standar kecantikan Korea bukan berarti menduplikasi metode perawatan secara identik tanpa penyesuaian. Menurutnya, setiap keputusan tindakan medis yang diambil harus didasarkan pada kondisi nyata kulit, struktur anatomi wajah, gaya hidup sehari-hari, serta tujuan estetika yang ingin dicapai oleh masing-masing pasien. Meskipun sistem konsultasi dan prinsip klinis yang diterapkan tetap merujuk pada standar praktik terbaik di Korea Selatan, penyesuaian lokal tetap menjadi prioritas utama. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya peran klinik dalam memberikan edukasi yang memadai kepada pasien mengenai kesiapan kondisi kulit mereka sebelum menjalani tindakan medis tertentu.
Salah satu faktor medis utama yang mendasari pentingnya modifikasi protokol perawatan ini adalah klasifikasi tipe kulit berdasarkan Fitzpatrick Skin Type. Sebagian besar pasien di Indonesia masuk ke dalam kategori tipe III hingga V. Karakteristik tipe kulit ini ditandai dengan warna kulit terang-menengah hingga cokelat tua yang memiliki kandungan melanin lebih tinggi. Tingginya kadar melanin alami ini membuat kulit masyarakat Indonesia jauh lebih rentan mengalami Post-Inflammatory Hyperpigmentation (PIH) atau penggelapan kulit pasca-tindakan medis yang menggunakan energi panas maupun teknologi laser. Oleh karena itu, penanganan yang disamakan dengan kulit pasien di Korea Selatan yang cenderung lebih terang justru dapat memicu efek samping yang tidak diinginkan.
Wisatawan Italia Tertipu Travel Agent di Labuan Bajo, Pemilik Labuan Bajo Top Diburu Polisi

Menanggapi tantangan tersebut, Dermatologist OORA Skinlabs, dr. Arlha Aporia Debinta, Sp.DVE, menjelaskan bahwa pasien dengan keluhan pigmentasi serupa bisa memerlukan penanganan laser dan jumlah sesi yang berbeda. Pada kulit yang rentan terhadap PIH, tim medis di klinik ini menerapkan pendekatan yang lebih konservatif guna meminimalkan risiko iritasi dan efek samping. Demi menjaga kualitas pelayanan, seluruh tenaga medis di klinik ini mendapatkan pelatihan langsung dari pakar estetika terkemuka Korea Selatan, seperti Dr. Kang dari Bailor Clinic Sinsa dan Dr. Jongwook Hong. Walaupun sekitar 90 persen perangkat teknologi dan produk yang digunakan didatangkan langsung dari Korea, fokus utama perawatan tetap diarahkan untuk menghasilkan tampilan kulit yang sehat dan natural tanpa mengubah karakter asli wajah pasien.






