Pasar logam mulia global tengah menyaksikan pergeseran dinamika yang menarik sepanjang tahun 2026. Meskipun emas kerap mendominasi perhatian investor, perak kini tampil sebagai aset berkinerja tinggi yang mencatatkan lonjakan signifikan. Logam industri ini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan mulai memimpin laju kenaikan di sektor komoditas logam mulia.
Kenaikan tajam harga perak dipicu oleh kombinasi ketidakseimbangan pasokan global dan lonjakan permintaan industri modern. Berdasarkan laporan World Silver Survey 2026 yang diterbitkan oleh Silver Institute bersama Metals Focus, pasar perak global telah mencatat defisit pasokan selama lima tahun berturut-turut hingga tahun 2025. Kondisi defisit ini diperkirakan berlanjut pada tahun 2026, yang menandai tahun keenam berturut-turut dengan potensi kekurangan pasokan mencapai 46,3 juta ounce.
Selain faktor pasokan yang terbatas, perak juga memiliki peran vital dalam berbagai industri teknologi masa depan. Logam ini sangat dibutuhkan untuk memproduksi panel surya, kendaraan listrik, hingga infrastruktur pusat data kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan data dari TradingEconomics, harga perak dunia telah melonjak sekitar 69% secara tahunan (year-on-year). Perusahaan broker JustMarkets, yang menyediakan layanan perdagangan CFD untuk instrumen XAU/USD dan XAG/USD, menilai bahwa perak memiliki faktor fundamental yang kuat dan karakter pergerakan harga yang unik, sehingga tidak lagi sekadar menjadi pelengkap emas. Pandangan ini juga diperhatikan oleh Niyas Yessengarayev selaku Regional Marketing Team Lead (APAC) JustMarkets.
Wisatawan Italia Tertipu Travel Agent di Labuan Bajo, Pemilik Labuan Bajo Top Diburu Polisi

Karakteristik unik perak ini terlihat jelas pada pekan pertama Agustus 2026. Pada periode tersebut, harga perak sempat menguat lebih dari 10%, jauh melampaui kenaikan harga emas yang tercatat sekitar 30% pada kurun waktu yang sama. Kenaikan harga perak yang signifikan ini juga mendorong penurunan rasio emas terhadap perak (gold-to-silver ratio) ke kisaran 68–69 pada awal Agustus. Di pasar domestik Indonesia, harga perak batangan Antam pun melonjak dari Rp39.450 menjadi Rp44.100 per gram hanya dalam waktu kurang dari dua pekan.
Sebagai perbandingan dengan pergerakan logam mulia lainnya, harga emas spot terpantau naik hingga 2,1% pada hari Senin (5/1) hingga menembus di atas US$4.420 per troy ounce, sementara harga perak melonjak 4,8% pada hari yang sama. Untuk prospek ke depan, seorang analis dari Finex memproyeksikan bahwa harga emas dapat mencapai level US$5.000 per troy ounce pada tahun 2026 yang didorong oleh faktor moneter.
Peluncuran Buku Pengantar Kebahagiaan Jadi Bentuk Apresiasi bagi Profesi Kurir

Sementara itu, harga emas batangan Antam di dalam negeri menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Pada Jumat, 31 Juli 2026, harga emas Antam sempat naik Rp7.000 menjadi Rp2.623.000 per gram, sebelum akhirnya turun Rp20.000 menjadi Rp2.603.000 per gram pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Memasuki pertengahan bulan, pada Senin (10/8), harga emas batangan Antam stagnan di level Rp2.690.000 per gram dengan harga buyback bertahan di angka Rp2.511.000 per gram. Namun, pada Rabu (12/8), harga emas Antam kembali turun sebesar Rp30.000 menjadi Rp2.680.000 per gram. Di samping fluktuasi harga, perhatian publik terhadap emas juga diwarnai oleh isu hukum, di mana mantan Wakil Ketua PPATK, Agus Santoso, meminta Tim 9 Kejaksaan Agung untuk mengusut tuntas kepemilikan aset berupa 74 kilogram emas.






