Peristiwa gempa bumi tektonik kuat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur dan menimbulkan dampak yang cukup luas. Gempa yang berpusat di dekat Nagekeo ini memicu kepanikan warga, memicu peringatan tsunami, merusak ratusan bangunan, hingga mengakibatkan jatuhnya puluhan korban jiwa di beberapa kabupaten.
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi tektonik ini terjadi pada hari Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Pusat gempa terdeteksi berada di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, tepatnya berjarak sekitar 30 kilometer arah timur laut dari Nagekeo. BMKG mengategorikan peristiwa ini sebagai gempa bumi dangkal dengan kedalaman 15 kilometer yang bersumber dari aktivitas Sesar Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. Guncangan terkuat dirasakan dalam skala VI MMI di kawasan Wolowae (Kabupaten Nagekeo) serta Kota Bajawa, sedangkan skala V MMI dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng.
Dampak dari guncangan bawah laut tersebut memicu dikeluarkannya peringatan dini tsunami oleh BMKG yang akhirnya resmi diakhiri pada pukul 07.30 WIB. Selama masa peringatan, kenaikan permukaan air laut terdeteksi di 10 daerah. Di antaranya, gelombang tsunami setinggi 0,94 meter tercatat di Maurole-Ende pada pukul 05.27 WIB, serta gelombang setinggi 0,54 meter di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada pukul 05.58 WIB. Setelah gempa utama berlalu, aktivitas tektonik di bagian utara Pulau Flores masih terus berlanjut. Hingga pukul 14.00 WIB di hari yang sama, tercatat telah terjadi 235 aktivitas gempa bumi susulan dengan rentang kekuatan magnitudo antara 2,5 hingga 6,8.
Golkar Puji 8 Prioritas Prabowo di RAPBN 2027, Sebut Arah Pembangunan Bangsa Terarah

Di tengah situasi darurat, terdapat perbedaan data mengenai jumlah korban meninggal dunia yang dilaporkan oleh lembaga berwenang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis total korban meninggal dunia mencapai 47 orang di Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data BNPB, sebaran korban jiwa meliputi 24 orang di Kabupaten Manggarai, 17 orang di Manggarai Timur, 3 orang di Sikka, 1 orang di Ngada, dan 1 orang di Ende. Sementara itu, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui Direktur Kesiapsiagaan Noer Isrodin Muchlisin memaparkan rincian korban yang sedikit berbeda. Basarnas mencatat 24 korban meninggal dan 22 korban luka di Kabupaten Manggarai, 11 korban meninggal dan 24 luka di Manggarai Timur, 1 korban meninggal dan 2 luka di Manggarai Barat, serta 1 korban meninggal di Kabupaten Nagekeo.
Selain korban jiwa, kerusakan fisik bangunan dan fasilitas publik dilaporkan cukup masif. Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga Sabtu (15/8) pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 157 unit rumah mengalami rusak berat, 41 unit rusak sedang, dan 148 unit rusak ringan. Fasilitas umum juga tidak luput dari kerusakan, meliputi 87 unit fasilitas pendidikan, 18 unit fasilitas kesehatan, 6 unit kantor pemerintahan, dan 5 tempat ibadah. Infrastruktur penting seperti fasilitas di Pelabuhan Maumere serta bangunan Hotel Jayakarta Bajo dilaporkan mengalami kerusakan. Selain itu, beberapa ruas jalan di Nusa Tenggara Timur tertutup material longsor akibat gempa sehingga mengganggu kelancaran jalur transportasi darat.
Ketika Sains Mulai Berpihak pada Pengalaman Paranormal

Merespons bencana ini, langkah penanganan darurat dan penyaluran bantuan langsung diinstruksikan oleh pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan mengirimkan 50.000 paket sembako untuk membantu para korban yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Bantuan logistik tersebut dijadwalkan akan dikirimkan dalam kurun waktu satu hingga dua hari ke depan guna meringankan beban warga di area terdampak.






