Sikap para pengembang properti di Jakarta terhadap kehadiran dan konektivitas dengan transportasi massal kini dilaporkan telah mengalami perubahan yang sangat drastis. Jika pada masa-masa awal pembangunan MRT Jakarta banyak pengembang yang enggan atau bahkan menolak bangunannya terhubung secara langsung, kini situasinya berbalik. Beberapa pengembang bahkan rela mengambil langkah untuk menggeser batas lahan properti mereka demi akses yang lebih baik.
Perubahan sikap yang signifikan ini menunjukkan bagaimana integrasi transportasi publik kini dinilai memberikan nilai tambah yang besar bagi kawasan properti di sekitarnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, saat berbicara di Wisma Nusantara pada Rabu (19/8/2026).
Perjuangan Meyakinkan Pengembang pada Masa Awal
Untuk memahami seberapa jauh perubahan sikap ini, perlu melihat kembali ke belakang pada periode tahun 2017-2018. Pada masa itu, ketika MRT Jakarta masih berada dalam tahap awal pengembangan, pihak pengelola harus bekerja keras untuk meyakinkan para pengembang agar mau terhubung dengan jaringan MRT.
Kawasan Industri Wiraraja Madura Bersiap Tarik Investasi Asing untuk Pemerataan Ekonomi

Ferdiansyah Roestam menceritakan bahwa pada masa tersebut, penolakan secara terbuka sempat terjadi. Bahkan, ada pengembang yang secara terang-terangan menolak kehadiran titik akses masuk stasiun MRT tepat di depan properti mereka. Akibat penolakan tersebut, tim MRT pada saat itu harus berkali-kali mendatangi pihak pengembang untuk menawarkan konektivitas dan integrasi stasiun.
Namun, paradigma tersebut kini telah bergeser sepenuhnya. Para pengembang mulai melihat manfaat nyata dari konektivitas transportasi massal bagi keberlangsungan bisnis dan properti mereka.
Rela Memundurkan Lahan di Koridor Termahal
Salah satu bukti nyata dari perubahan drastis ini terlihat pada proyek Extended Concourse di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Salah satu mal atau pusat perbelanjaan yang terletak di sisi proyek Extended Concourse bersedia memundurkan batas area bangunannya (setback area) hingga 80 sentimeter.
Pertamina Raih Capaian TKDN 71,14 Persen Sepanjang 2025

Keputusan memundurkan batas lahan ini tergolong sangat berani mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu wilayah dengan nilai tanah tertinggi. Menurut keterangan Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, kawasan pusat Jakarta yaitu HI merupakan kawasan termahal di Indonesia dengan nilai tanah yang menembus hingga Rp300 juta per meter persegi.
Willson Kalip juga menambahkan bahwa harga tanah tertinggi di Jakarta memang berlokasi di sepanjang koridor utama Thamrin-Sudirman, yang nilainya mencapai Rp300 juta per meter persegi. Dengan nilai tanah yang sangat tinggi tersebut, kerelaan pengembang untuk memundurkan batas lahannya demi akses pedestrian yang terhubung dengan MRT memperlihatkan betapa pentingnya nilai konektivitas transportasi massal bagi pengembang saat ini.






