Arisan merupakan salah satu metode yang sudah sangat akrab di tengah masyarakat Indonesia. Kegiatan ini menjadi salah satu cara yang cukup umum digunakan oleh masyarakat untuk mengumpulkan uang bersama demi berbagai kebutuhan. Namun, fungsi sosial arisan ini kerap kali disalahgunakan oleh oknum tertentu. Saat ini, modus arisan bodong marak terjadi dan sering kali dijadikan sebagai kedok untuk menyembunyikan skema ponzi atau investasi bodong yang merugikan.
Maraknya kasus arisan bodong yang terus memakan korban tidak lepas dari kondisi psikologis dan tingkat pemahaman masyarakat. Sebagian masyarakat masih rentan tergiur karena memiliki keinginan untuk mendapatkan hasil atau keuntungan finansial yang besar dalam waktu instan. Selain itu, faktor literasi keuangan yang masih relatif rendah di kalangan masyarakat turut andil dalam membuat mereka kesulitan membedakan antara arisan yang aman dan arisan yang bersifat penipuan.
Mengenali Ciri-Ciri Arisan Bodong
Agar terhindar dari kerugian, penting bagi masyarakat untuk mengetahui tanda-tanda peringatan sejak awal. Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, membagikan sejumlah tanda bahaya arisan bodong saat memberikan keterangan kepada CNNIndonesia.com pada Senin (24/8).
Guyon Bahlil di Peluncuran PLTS Bali, Sebut Eksekusinya di Kandang Merah

Tanda pertama yang paling mudah dikenali adalah penawaran keuntungan yang tidak realistis. Pengelola arisan bodong biasanya menjanjikan keuntungan yang sangat besar kepada peserta, bahkan bisa mencapai dua atau tiga kali lipat dari jumlah uang yang telah disetorkan. Keuntungan berlipat ganda ini dijanjikan dalam waktu perputaran yang relatif singkat, yang mana sangat tidak masuk akal dalam instrumen pengelolaan uang yang sehat.
Tanda peringatan berikutnya dapat dilihat dari bagaimana pengelola menjalankan komunikasi kelompok. Andi Nugroho menyebutkan bahwa admin atau pengelola yang berusaha menutupi identitas anggota lain merupakan lampu merah yang harus diwaspadai. Selain itu, pengelola biasanya membatasi komunikasi antaranggota secara sepihak, misalnya dengan mengunci grup WhatsApp arisan sehingga hanya admin yang dapat mengirim pesan. Hal ini membuat anggota tidak dapat saling berdiskusi secara terbuka.
Perencana keuangan dari Oneshildt, Budi Rahardjo, juga menambahkan ciri khas lain dari arisan bodong. Menurut Budi, pengelola arisan bodong biasanya sangat agresif dalam mencari dan merekrut anggota baru di mana saja tanpa seleksi. Hal ini sangat kontras dengan arisan pada umumnya, yang biasanya berlangsung secara terbatas di antara orang-orang yang sudah saling mengenal satu sama lain, seperti keluarga, rekan kerja, atau tetangga.
Prabowo Resmi Luncurkan Program PLTS 100 GWp di Jembrana Bali

Antisipasi Kegagalan Sistem dan Tips Menghindarinya
Selain memperhatikan tanda-tanda di awal, peserta juga harus waspada terhadap jalannya operasional arisan tersebut. Salah satu indikator utama bahwa sistem arisan tersebut telah mengalami kegagalan adalah ketika proses pembayaran mulai terhambat. Jika pembayaran uang arisan kepada anggota yang berhak sudah mulai mengalami keterlambatan, maka hal tersebut menunjukkan bahwa sistem perputaran uang di dalam arisan tersebut telah gagal bekerja.
Sebagai langkah pencegahan agar tidak terjebak dalam kerugian materi, Budi Rahardjo menyarankan agar masyarakat tidak mudah memercayai tawaran arisan begitu saja. Sikap skeptis dan hati-hati harus tetap dikedepankan, sekalipun tawaran untuk bergabung tersebut datang dari lingkaran terdekat. Budi mengingatkan agar masyarakat tetap waspada meskipun orang yang mengajak bergabung adalah teman, saudara, kerabat dekat, atau anggota keluarga sendiri.






