Badan intelijen domestik Israel, Shin Bet, memutuskan untuk mengevakuasi secara darurat Yair Netanyahu, putra sulung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dari Amerika Serikat kembali ke Israel. Langkah cepat ini diambil menyusul adanya ancaman pembunuhan yang signifikan dari pihak Iran.
Keputusan evakuasi tersebut diumumkan oleh Shin Bet pada Sabtu malam setelah lembaga itu melakukan penilaian risiko secara komprehensif. Mengingat adanya ancaman nyata yang membahayakan keselamatannya, Yair bersama tim pengawalnya segera dipulangkan. Proses evakuasi berlangsung sangat kilat hingga Yair tidak sempat membawa barang-barang pribadinya dan langsung diterbangkan menuju Israel.
Stasiun Karet Ditutup Mulai 1 September 2026, Operasional Dialihkan ke Stasiun BNI City

Sebelumnya, lembaga penyiaran Amerika Serikat, Newsmax, melaporkan bahwa Yair menjadi target dugaan plot pembunuhan oleh Iran pada Desember lalu saat ia tinggal di Florida. Intelijen Israel dilaporkan langsung memberi tahu otoritas AS setelah mengetahui rencana tersebut. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga menegaskan hal ini dalam wawancara di stasiun televisi Channel 14 Israel, dengan menyatakan secara terbuka bahwa Iran menargetkan dan mencoba membunuh salah satu putranya.
Evakuasi darurat ini kembali mengarahkan perhatian publik pada sosok Yair. Laporan dari media The Times of Israel sebelumnya menyoroti gaya hidup mewah yang dijalani Yair selama berada di AS. Pengamanan berlapis untuk dirinya yang didanai oleh anggaran negara juga berulang kali memicu kemarahan masyarakat di negaranya.
AS Serang Dua Peluncur Senjata Iran di Pulau Larak

Publik Israel melayangkan kritik tajam karena Yair tetap memilih tinggal di AS setelah konflik eskalasi pecah pada 7 Oktober 2023. Banyak warga mempertanyakan standar ganda yang membiarkan putra perdana menteri tetap hidup nyaman di luar negeri, sementara ratusan ribu tentara cadangan harus dipanggil ke medan perang. Yair sendiri dikenal sebagai aktivis sayap kanan dan podcaster yang aktif di media sosial untuk menyerang lawan politik ayahnya, kritikus pemerintah, serta kalangan jurnalis.






