Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara telah merilis data pertumbuhan ekonomi untuk kuartal kedua tahun 2026. Dari enam negara ASEAN yang melaporkan kinerjanya, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menempatkan Indonesia di posisi keempat, di bawah Vietnam, Malaysia, dan Singapura.
Posisi Indonesia di Tengah Dinamika Domestik
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga yang masih menjadi motor penggerak utama. Sektor ini menyumbang sekitar 53,32 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan pertumbuhan sebesar 5,06 persen.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh konsumsi pemerintah yang melonjak hingga 15,97 persen secara tahunan. Sementara itu, sektor investasi juga menunjukkan tren positif dengan tumbuh sebesar 6,87 persen.
Di sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dipimpin oleh sektor listrik dan gas yang mampu tumbuh 10,81 persen, diikuti oleh sektor akomodasi serta makan dan minum sebesar 10,60 persen. Industri manufaktur, yang memegang kontribusi terbesar terhadap PDB nasional, tumbuh sebesar 4,52 persen. Namun, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen pada kuartal ini.
Tol Sawangan-Bojonggede-Salabenda Dilanjutkan Tahun Ini, Tembus ke Caringin

Tiga Besar Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN
Vietnam memimpin daftar pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN pada kuartal II 2026 dengan mencatatkan angka 8,39 persen secara tahunan. Berdasarkan laporan National Statistics Office of Vietnam, sektor industri dan konstruksi menjadi penyokong utama dengan pertumbuhan 10,51 persen dan berkontribusi sebesar 50,07 persen terhadap total pertumbuhan. Sektor jasa di Vietnam tumbuh 7,87 persen, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,06 persen. Pada Juni 2026, produksi industri Vietnam tercatat naik 12,7 persen yoy, dibarengi peningkatan ekspor sebesar 8,2 persen.
Posisi kedua ditempati oleh Malaysia yang ekonominya tumbuh sebesar 6 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan penguatan dibandingkan kuartal I 2026 yang berada di level 5,4 persen. Menurut laporan Bank Negara Malaysia (BNM), laju ekonomi ini disokong oleh permintaan domestik yang tetap kuat serta aktivitas ekspor yang meningkat.
Singapura berada di peringkat ketiga dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,9 persen secara tahunan. Angka ini melampaui estimasi awal (advance estimate) pemerintah setempat yang sebelumnya dipatok sebesar 5,7 persen. Sektor manufaktur Singapura mendominasi pertumbuhan dengan kenaikan 12,2 persen, didorong oleh peningkatan produksi pada bidang elektronik dan teknologi rekayasa manufaktur (precision engineering). Pemerintah Singapura kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi setahun penuh untuk 2026 berada di kisaran 4,5 persen hingga 5,5 persen.
Iran Kecam Sanksi Ekonomi Baru AS, Sebut Melanggar Hukum Internasional

Perlambatan di Filipina dan Thailand
Di posisi terbawah, Filipina dan Thailand sama-sama mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,3 persen secara tahunan pada kuartal II 2026.
Bagi Filipina, angka 2,3 persen ini menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan kuartal I 2026 yang sebesar 2,8 persen, serta kuartal II 2025 yang mampu mencapai 5,4 persen. Data Philippine Statistics Authority (PSA) menunjukkan bahwa pertumbuhan disokong oleh sektor perdagangan grosir dan eceran serta reparasi kendaraan yang tumbuh 4,6 persen, sektor pendidikan tumbuh 12,7 persen, serta manufaktur yang tumbuh 2,6 persen. Namun, investasi di Filipina anjlok sebesar 9,2 persen. Menteri Ekonomi, Perencanaan, dan Pembangunan Filipina Arsenio Balisacan menjelaskan bahwa penurunan tajam pada sektor konstruksi publik menjadi penyebab utama merosotnya investasi tersebut.
Sementara itu, Thailand juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,3 persen secara tahunan. Meskipun melambat dari capaian kuartal I 2026 yang sebesar 2,8 persen, pertumbuhan ini melampaui ekspektasi konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan angka 1,7 persen. Berdasarkan data National Economic and Social Development Council (NESDC), performa ekonomi Thailand ditopang oleh kenaikan ekspor barang dan jasa sebesar 12,5 persen serta lonjakan investasi swasta yang mencapai 13,4 persen.






