Umat Islam rutin menjalankan berbagai ibadah sunah untuk meningkatkan ketakwaan, salah satunya adalah puasa pada hari Senin dan Kamis. Ibadah ini dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari karena Allah SWT.
Bagi umat Muslim yang ingin mengamalkannya, memahami niat dan keutamaan puasa Senin Kamis lengkap dengan maknanya menjadi langkah awal yang penting agar ibadah dapat ditunaikan dengan benar.
Lafaz Niat Puasa Senin dan Kamis
Niat merupakan syarat utama dalam menjalankan ibadah puasa. Hal terpenting dalam ibadah ini adalah adanya niat di dalam hati untuk berpuasa sunah karena Allah SWT. Meski demikian, melafazkan niat secara lisan sering dilakukan untuk memantapkan hati.
Lafaz niat dapat berbeda dalam redaksi di berbagai kitab atau kebiasaan masyarakat. Secara umum, berikut adalah lafaz niat yang biasa digunakan:
Kementerian PPPA Salurkan Bantuan Khusus Perempuan dan Anak Terdampak Gempa NTT

Niat untuk puasa hari Senin: "Nawaitu shauma yaumil itsnaini sunnatan lillāhi ta‘ālā." Artinya: "Saya berniat puasa sunah hari Senin karena Allah Ta'ala."
Niat untuk puasa hari Kamis: "Nawaitu shauma yaumil khamīsi sunnatan lillāhi ta‘ālā." Artinya: "Saya berniat puasa sunah hari Kamis karena Allah Ta'ala."
Keutamaan dan Makna Ibadah
Rasulullah SAW diketahui sering menjalankan puasa pada hari Senin dan Kamis semasa hidupnya. Kebiasaan ini didasarkan pada keutamaan besar yang terkandung pada kedua hari tersebut.
Gas Metana Picu Kebakaran TPA Nangkaleah Tasikmalaya, Api Belum Padam setelah 21 Jam

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hari Senin merupakan hari kelahirannya sekaligus hari ketika beliau menerima wahyu untuk pertama kali. Hal ini memberikan makna bahwa puasa di hari Senin dapat menjadi bentuk rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW dan turunnya wahyu Islam.
Sementara itu, hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menyebutkan keutamaan lain terkait waktu penyerahan amal. Berdasarkan hadis tersebut, amal perbuatan manusia diperlihatkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis. Rasulullah SAW sangat menyukai dan memilih agar amalnya diperlihatkan saat beliau sedang dalam keadaan berpuasa. Melalui pemahaman ini, umat Muslim diajak untuk selalu menjaga amal perbuatan mereka dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.






