Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, dilaporkan mengalami 21 kali gempa letusan. Aktivitas seismik ini tercatat dalam durasi enam jam pada Jumat (28/8/2026) mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, menjelaskan bahwa gempa letusan tersebut terekam dengan amplitudo 10–22 mm. Adapun durasi gempa berlangsung sekitar 67 hingga 120 detik. Berdasarkan pengamatan visual, gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini terlihat jelas tanpa adanya asap kawah yang teramati. Cuaca di sekitar kawasan dilaporkan cerah dengan embusan angin lemah menuju arah tenggara dan selatan.
Peter Cullen, Pengisi Suara Optimus Prime, Meninggal Dunia pada Usia 85 Tahun

Hingga saat ini, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih bertahan pada Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk mematuhi rekomendasi keselamatan dengan menjauhi radius bahaya sejauh 13 kilometer dari gunung. Sebelumnya, pada Selasa malam (18/8/2026), Badan Geologi mencatat terjadinya erupsi beruntun pada Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-laki. Dalam peristiwa tersebut, Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran serta kolom abu setinggi 1 kilometer.
Di samping aktivitas vulkanik, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah menutup total seluruh jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026. Langkah penutupan ini diambil menyusul terjadinya kebakaran hutan di kawasan Blok Ranu Kembang.
Imigrasi Deportasi WN Prancis Pembuat Konten Asusila di Bali

Kebakaran tersebut sempat memicu proses evakuasi terhadap 170 pendaki yang tengah berada di kawasan Ranu Kumbolo. BPBD Lumajang segera mengirimkan tim penyelamat ke lokasi, dan seluruh pendaki dipastikan telah berhasil dievakuasi turun dengan selamat pada Kamis (27/8/2026).






