Hanya 41 bioskop di seluruh dunia yang mampu memutar The Odyssey dalam format IMAX 70 milimeter—persis seperti yang diinginkan sutradara Christopher Nolan. Kelangkaan ini melahirkan fenomena baru: perburuan tiket yang menyerupai ziarah sinema. Penggemar dari berbagai kota bahkan negara rela merogoh tabungan, memesan penginapan, dan terbang ribuan kilometer demi berdiri di depan layar raksasa yang menjanjikan imersi tanpa batas.
Bismah Zabih dan suaminya adalah satu dari sekian banyak peziarah itu. Berasal dari Tampa, Florida, pasangan ini sebetulnya bisa menonton di bioskop IMAX biasa di Miami. Namun godaan layar Lincoln Square di New York—yang disebut-sebut sebagai layar IMAX terbaik—terlalu kuat untuk ditolak. Mereka mengeluarkan sekitar 1.200 dolar AS atau setara Rp21,5 juta untuk liburan singkat yang intinya adalah duduk di kursi bioskop. Bagi Zabih, uang itu terbayar lunas begitu layar setinggi gedung menyelimuti pandangan. Ia menggambarkan tak ada lagi batas antara gambar dan penonton; tubuh seakan larut ke dalam kisah epik yang bergulir.
Tak cuma pasangan muda. Sergio Estrada, seorang guru 34 tahun dari El Paso, Texas, memilih menempuh perjalanan darat ke Tempe, Arizona, dan menghabiskan hampir 9 juta rupiah. Tiketnya sendiri dibeli setahun sebelumnya seharga 80 dolar, tetapi biaya bensin dan Airbnb membengkakkan total pengeluaran. Meski begitu, ia sama sekali tidak menyesal. Estrada menyandingkan pengalaman itu dengan momen pertama kali menatap patung Michelangelo secara langsung. Selama ini detail lipatan kulit dan tonjolan jemari hanya bisa dibayangkan lewat reproduksi; kini semuanya hadir nyata di depan mata. Rasa takjub yang mengubah cara seseorang menghargai seni.
Mesin Jahit Bekas yang Menghidupi Lima Keluarga

Adakah yang lebih ekstrem? Kaylin Bergeson, warga Orlando, terbang ke New York untuk pemutaran pukul 7 pagi di Lincoln Square pada hari pertama. Ia baru saja menyelesaikan giliran kerja malam, tak sempat tidur lebih dari 24 jam, dan langsung menuju bandara. Ongkos perjalanannya sekitar 300 dolar AS atau Rp5,37 juta jika tak memakai poin. Bagi Bergeson, menonton The Odyssey dalam format ini ibarat memandang langsung lukisan Mona Lisa alih-alih kartu posnya. “Film ini memang diciptakan untuk format ini,” ujarnya. Saking eksklusifnya, tiket di pasar gelap pun melonjak; seorang pengguna Reddit melepas satu tiket seharga dua kali lipat hanya dalam 15 menit setelah menerima lima permintaan.
Dari sisi produksi, Nolan benar-benar menjadikan The Odyssey sebagai manifesto seluloid. Ia menggelontorkan sekitar 250 juta dolar AS (lebih dari Rp4,4 triliun) dan memakai kamera IMAX baru yang lebih senyap. Total 2,1 juta kaki film IMAX mentah habis digunakan, dengan biaya bahan baku film saja diperkirakan menembus 3 juta dolar atau Rp53,7 miliar. Hasilnya: sebuah tontonan yang pada akhir pekan pembukanya meraup 124,5 juta dolar di AS dan Kanada, nyaris seperempatnya berasal dari layar IMAX. Permintaan yang meluap membuat bioskop Lincoln Square menambah jadwal pada pukul 2 dan 6 pagi—sebuah pemandangan yang lazim hanya untuk konser musik atau laga olahraga akbar.
Cak Imin Ingatkan Muktamar NU Harus Bersih dari Noda Uang

Fenomena ini menandai pergeseran cara kita mengonsumsi hiburan: bukan lagi sekadar menonton, melainkan mengejar pengalaman puncak yang langka. Layar 70 milimeter bukan cuma soal resolusi; ia adalah kunci menuju ruang sakral tempat seni sinema bisa dirasakan dalam wujudnya yang paling jujur. Dan bagi ribuan penggemar yang rela merogoh jutaan rupiah, perjalanan itu memang pantas dilakoni.






