Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus meningkatkan kesiapsiagaan dan tindakan nyata di lapangan guna mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh lembaga tersebut, BNPB catat 8.900 ha lahan terbakar di Kalimantan Selatan. Angka ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh tim gabungan di lapangan dalam menekan penyebaran titik api yang terus berkobar di tengah musim kemarau.
Upaya penanggulangan karhutla ini tidak hanya terfokus pada satu wilayah. BNPB bersama pihak-pihak terkait saat ini tengah mengerahkan personel serta peralatan secara masif untuk menangani kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di 6 (enam) provinsi terdampak. Koordinasi taktis terus dilakukan di bawah komando Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, guna memastikan seluruh aset penyelamatan, baik di darat maupun di udara, dapat bekerja secara maksimal dan terintegrasi demi meminimalisasi kerusakan lingkungan serta dampak sosial bagi masyarakat setempat.
Lonjakan Titik Panas di Ring Satu Bandara dan Wilayah Sekitar
Penyebaran titik api di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan konsentrasi yang cukup mengkhawatirkan di beberapa titik strategis. BNPB mengidentifikasi bahwa konsentrasi titik panas dengan intensitas tinggi di daerah ini terpantau berada di kawasan Ring 1 yang lokasinya mendekati bandara. Keberadaan titik api di dekat fasilitas transportasi udara utama ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan sipil dan mobilitas logistik regional jika tidak segera dikendalikan.
Selain kawasan Ring 1 dekat bandara, wilayah lain yang juga mencatatkan aktivitas kebakaran lahan yang signifikan meliputi Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut. Ketiga wilayah administratif ini menjadi fokus perhatian tim pemadam kebakaran karena memiliki karakteristik lahan yang rentan terbakar serta dekat dengan permukiman penduduk. Kebakaran di Kota Banjar dan Kota Banjarbaru memerlukan penanganan yang cepat karena letak geografisnya yang berdekatan dengan pusat aktivitas pemerintahan dan ekonomi lokal. Sementara itu, di Kabupaten Tanah Laut, karakteristik vegetasi dan kondisi cuaca kering turut memicu perluasan area yang terbakar, sehingga menuntut pengerahan sumber daya yang lebih intensif di titik-titik rawan tersebut.
Pihak berwenang terus melakukan pemantauan berkala terhadap pergerakan titik panas ini menggunakan teknologi satelit dan patroli udara secara langsung. Pemetaan wilayah rawan di sekitar Ring 1 bandara dilakukan untuk mencegah api melompati sekat bakar yang telah dibuat oleh petugas di lapangan. Upaya lokalisasi titik api di Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut juga terus diperkuat dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, instansi militer, kepolisian, serta sukarelawan setempat guna menahan laju kebakaran agar tidak meluas ke area hutan lindung maupun lahan pertanian produktif milik warga.
Dampak Kabut Asap Pagi Hari di Kalimantan Selatan
Dampak langsung dari luasnya lahan yang terbakar di Kalimantan Selatan mulai dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk penurunan kualitas udara. BNPB melaporkan bahwa kabut asap sempat muncul di Kalimantan Selatan pada periode tanggal 19 hingga 20 Agustus. Keberadaan kabut asap ini dilaporkan terjadi secara khusus pada pagi hari dan berlangsung hingga tanggal 20 Agustus. Munculnya kabut asap pada pagi hari ini tidak hanya membatasi jarak pandang masyarakat yang hendak memulai aktivitas harian, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terkait gangguan kesehatan pernapasan.
Fenomena kabut asap pagi hari ini terjadi karena akumulasi partikel debu dan sisa pembakaran yang tertahan di lapisan atmosfer bawah akibat suhu udara yang masih dingin sebelum matahari terbit. Begitu memasuki siang hari, seiring dengan meningkatnya suhu udara dan embusan angin, kabut asap tersebut perlahan mulai terurai. Namun, kemunculannya yang konsisten selama dua hari tersebut menjadi sinyal kuat bahwa intensitas kebakaran di lahan-lahan gambut maupun semak belukar di sekitar wilayah pemukiman masih cukup tinggi.
Petugas di lapangan terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada pagi hari atau menggunakan masker pelindung guna menghindari dampak buruk dari paparan asap sisa kebakaran tersebut. Meskipun setelah tanggal 20 Agustus kondisi udara dilaporkan berangsur-angsur membaik seiring dengan upaya pemadaman yang masif, kewaspadaan tetap ditingkatkan karena potensi kembalinya kabut asap sangat bergantung pada keberhasilan tim gabungan dalam memadamkan bara api yang masih tersisa di bawah permukaan lahan gambut.
Kesaksian Aktivis, Sumber Api Karhutla Diduga dari Pembukaan Lahan

Mobilisasi Sembilan Ribu Personel Gabungan dan Helikopter Siaga
Menghadapi skala kebakaran yang cukup luas di Kalimantan Selatan, BNPB tidak bekerja sendiri. Langkah cepat diambil dengan memobilisasi kekuatan personel dalam jumlah besar guna melakukan pemadaman di jalur darat. Sekitar 9.800 personel gabungan telah dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. Personel gabungan ini terdiri dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat provinsi dan kabupaten/kota, hingga para relawan peduli api yang berasal dari masyarakat lokal.
Pengerahan personel darat ini dinilai sangat krusial untuk melakukan pemadaman langsung pada titik-titik api yang tidak terjangkau oleh sarana lain, serta melakukan penyekatan lahan agar api tidak merembet ke area baru. Kerja keras ribuan personel di lapangan ini didukung dengan koordinasi yang ketat guna membagi wilayah kerja berdasarkan tingkat kerawanan masing-masing daerah, terutama di area Ring 1 bandara, Kota Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah Laut.
Untuk memperkuat pertempuran melawan api dari udara, BNPB juga menyiagakan dukungan armada helikopter. Sebanyak sembilan unit helikopter telah disiapkan untuk siaga di wilayah Kalimantan Selatan. Helikopter-helikopter ini memegang peran ganda, yakni untuk melakukan patroli pemantauan udara guna mendeteksi munculnya titik api baru secara cepat, serta melakukan operasi pengeboman air (water bombing) pada area-area kebakaran yang sulit dijangkau oleh petugas darat akibat medan yang ekstrem atau ketiadaan akses jalan. Kehadiran sembilan unit helikopter siaga ini diharapkan mampu mempercepat proses pemadaman dan meminimalkan perluasan area lahan yang terbakar di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
Strategi Penanganan Karhutla di Wilayah Kalimantan Barat
Selain penanganan intensif di Kalimantan Selatan, BNPB juga memfokuskan perhatian pada provinsi tetangga, yaitu Kalimantan Barat, yang turut mengalami ancaman kebakaran hutan dan lahan yang serius. Di wilayah Kalimantan Barat, BNPB telah mengoperasionalkan sebanyak 11 unit helikopter untuk mendukung operasi pemadaman dari udara. Jumlah helikopter yang dikerahkan di provinsi ini mencerminkan luasnya wilayah yang terdampak serta tingkat kesulitan medan yang harus dihadapi oleh tim satgas udara di lapangan.
Sebagai bagian dari strategi operasi udara di Kalimantan Barat, BNPB menyiagakan enam unit water bombing serta mendirikan dua base Satgas Udara. Keberadaan base Satgas Udara ini sangat penting untuk menjamin kelancaran logistik penerbangan, pengisian bahan bakar helikopter, serta koordinasi misi penerbangan harian. Dua base Satgas Udara di Kalimantan Barat tersebut ditempatkan di lokasi strategis, yaitu di Bandara Supadio yang terletak di Kabupaten Kubu Raya dekat Pontianak, serta di wilayah Ketapang. Pembagian dua pangkalan udara ini memungkinkan cakupan operasi yang lebih luas dan waktu respons yang lebih cepat saat mendeteksi adanya kebakaran baru.
Perkembangan situasi di lapangan menuntut adanya fleksibilitas dalam pergerakan armada udara. Oleh karena itu, helikopter patroli dan water bombing yang ada di Kalimantan Barat telah digeser atau dipindahkan untuk memperkuat daerah-daerah yang terdampak di wilayah Kalimantan Barat, khususnya yang berada di bagian selatan. Secara spesifik, pergeseran armada udara ini diarahkan untuk memperkuat penanganan di wilayah Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya. Ketiga wilayah di bagian selatan Kalimantan Barat ini dinilai membutuhkan dukungan tambahan karena adanya peningkatan aktivitas kebakaran lahan yang berpotensi mengancam kelestarian lingkungan hidup dan pemukiman warga di sekitarnya.
Antisipasi Peningkatan Titik Panas di Kalimantan Tengah
Kondisi siaga darurat karhutla juga menyelimuti wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. BNPB mencatat adanya peningkatan intensitas titik panas di Kalimantan Tengah dalam beberapa waktu terakhir. Peningkatan ini menuntut respons cepat sebelum kebakaran meluas ke area gambut dalam yang lebih sulit untuk dipadamkan. Sebagai langkah antisipasi dan penanganan cepat, BNPB telah mengerahkan 10 unit helikopter ke wilayah Kalimantan Tengah guna mengendalikan situasi dari udara.
Armada udara yang dikerahkan di Kalimantan Tengah memiliki spesifikasi tugas yang beragam untuk mengoptimalkan efisiensi operasi. Dari total 10 unit helikopter yang diterjunkan, tiga unit di antaranya adalah helikopter jenis Bell yang dikenal andal untuk mobilitas taktis. Selain itu, terdapat satu unit helikopter jenis Caravan yang difungsikan untuk melakukan patroli udara guna memantau perkembangan titik api secara real-time maupun mendukung operasi pengeboman air skala ringan (OMC). Sementara itu, enam unit helikopter lainnya difokuskan sepenuhnya sebagai unit water bombing untuk mengguyur titik-titik api besar langsung dari udara.
Kubu Ruben Onsu Buka Suara soal Kasus Dugaan Penipuan Rp3,5 Miliar

Untuk mendukung kelancaran operasional seluruh armada udara tersebut, BNPB menyiapkan dua base utama sebagai pusat operasi udara di Kalimantan Tengah. Base pertama ditempatkan di Bandara Tjilik Riwut yang berada di Palangka Raya, ibu kota provinsi. Pangkalan udara ini berfungsi sebagai pusat komando utama untuk wilayah tengah dan utara Kalimantan Tengah. Sementara itu, base kedua disiapkan di Kabupaten Sampit guna memperkuat jangkauan operasi di wilayah barat dan selatan provinsi tersebut, yang secara historis sering mengalami kebakaran lahan gambut yang cukup parah saat musim kemarau tiba.
Penyediaan Sarana Pendukung Operasi Darat BNPB
Keberhasilan penanggulangan karhutla di lapangan tidak hanya bertumpu pada kekuatan armada udara, melainkan juga sangat bergantung pada kesiapan peralatan yang digunakan oleh tim darat. Untuk menunjang mobilitas dan efektivitas petugas di area-area yang sulit diakses oleh kendaraan roda empat, BNPB telah menyiapkan berbagai peralatan operasional lapangan yang memadai. Di antaranya adalah penyediaan lima unit motor trail yang dirancang khusus untuk melewati medan tanah, lumpur, dan hutan belantara demi menjangkau titik api terpencil dengan cepat.
Selain kendaraan taktis roda dua, BNPB juga menyiagakan mobil tangki air yang berfungsi sebagai penyuplai air utama bagi petugas pemadam di garis depan. Keberadaan mobil tangki ini sangat vital, terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari sumber air alami seperti sungai atau danau. Untuk menarik air dari sumber terdekat dan menyemprotkannya ke titik api, disiapkan pula pompa-pompa kecil yang memiliki mobilitas tinggi sehingga mudah dipindahkan oleh personel di lapangan sesuai dengan arah pergerakan api.
Melengkapi peralatan pemadaman darat tersebut, disiapkan juga flexible tank atau tangki air portabel yang elastis. Flexible tank ini berfungsi sebagai wadah penampungan air sementara di dekat lokasi kebakaran. Dengan adanya tangki penampung portabel ini, helikopter water bombing maupun mobil tangki air dapat melakukan pengisian ulang air secara lebih efisien, dan petugas darat memiliki cadangan air yang cukup untuk melakukan pembasahan (wetting) pada lahan gambut yang telah padam guna mencegah munculnya kembali api dari dalam tanah. Seluruh peralatan pendukung ini didistribusikan ke wilayah-wilayah rawan kebakaran guna memastikan setiap personel di lapangan dapat bekerja dengan dukungan logistik yang optimal.
Tantangan dan Batasan Data Penanganan Karhutla di Lapangan
Dalam melaksanakan operasi penanggulangan karhutla berskala besar ini, BNPB bersama tim gabungan dihadapkan pada berbagai tantangan teknis dan alamiah di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah karakteristik lahan gambut di Kalimantan yang memiliki sifat mudah terbakar hingga ke lapisan dalam tanah. Api yang tampak sudah padam di permukaan sering kali masih menyisakan bara panas di kedalaman beberapa meter di bawah tanah, yang sewaktu-kanti dapat menyala kembali apabila tertiup angin kencang atau terpapar cuaca panas yang ekstrem.
Selain itu, keterbatasan akses transportasi menuju titik api di tengah hutan belantara atau kawasan rawa yang terisolasi kerap memperlambat waktu respons tim pemadam darat. Meskipun armada helikopter water bombing telah dikerahkan secara maksimal, efektivitas pengeboman air dari udara sangat bergantung pada kondisi cuaca, arah angin, serta ketebalan asap yang dapat memengaruhi jarak pandang pilot. Batasan visibilitas akibat kabut asap tebal sering kali memaksa helikopter untuk menunda penerbangan demi keselamatan kru udara.
BNPB juga terus memperbarui data luasan lahan terbakar secara berkala berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan analisis citra satelit terbaru. Angka sekitar 8.900 hektare lahan terbakar di Kalimantan Selatan merupakan data kumulatif yang tercatat hingga periode pelaporan ini. Perubahan cuaca yang dinamis, potensi terjadinya hujan lokal, serta keberhasilan upaya pemadaman yang dilakukan oleh ribuan personel gabungan diharapkan dapat menekan laju pertambahan luas lahan yang terbakar di hari-hari mendatang. Evaluasi berkala terhadap penempatan base operasi udara dan distribusi logistik darat terus dilakukan agar penanganan karhutla di enam provinsi prioritas dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien.






