Upaya pemulihan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berjalan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut. Fokus utama saat ini adalah memulihkan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat agar dapat berfungsi kembali secara optimal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sebagian besar pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang terdampak kini telah kembali membuka layanannya.
Apa Penyebab Kerusakan Fasilitas Kesehatan di NTT?
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada Rabu, 19 Agustus 2026. Guncangan kuat dari gempa ini mengakibatkan kerusakan pada berbagai infrastruktur vital, termasuk fasilitas kesehatan masyarakat.
BNPB mencatat sebanyak 169 puskesmas di wilayah terdampak mengalami kerusakan fisik akibat gempa tersebut. Sebagian besar kerusakan bangunan puskesmas didominasi oleh kategori rusak sedang. Kondisi ini sempat mengganggu jalannya pelayanan medis dasar bagi warga sekitar yang membutuhkan penanganan cepat.
Bagaimana Status Operasional Puskesmas Saat Ini?
Meskipun mengalami kerusakan, proses pemulihan layanan kesehatan berjalan cukup cepat. Berdasarkan data terbaru dari BNPB, sebanyak 101 dari total 169 puskesmas yang terdampak gempa kini telah kembali beroperasi secara penuh.
Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Unsoed Gantikan Akhmad Sodiq

Namun, pemulihan belum merata sepenuhnya di seluruh wilayah terdampak. Rincian status operasional puskesmas saat ini adalah sebagai berikut:
- 101 puskesmas telah kembali beroperasi penuh.
- 49 puskesmas baru dapat beroperasi sebagian karena kondisi fisik bangunan atau keterbatasan fasilitas.
- 19 puskesmas masih belum dapat beroperasi sama sekali.
Untuk mengatasi kendala pelayanan di puskesmas yang mengalami kerusakan sedang hingga berat, BNPB memfasilitasi pendirian tenda darurat berukuran 6x12 meter sebagai pos pelayanan kesehatan sementara.
Di Kabupaten Sikka, terdapat 8 tenda yang didirikan di 8 titik untuk difungsikan sebagai puskesmas sementara guna melayani kebutuhan kesehatan masyarakat. Sementara itu, di Kabupaten Manggarai didirikan 12 tenda, dengan 4 di antaranya dialokasikan khusus untuk mendukung pelayanan Rumah Sakit Umum (RSU) setempat.
Bagaimana Kesiapan Tenaga Medis di Lapangan?
Selain infrastruktur fisik, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) kesehatan menjadi pilar penting dalam penanganan dampak bencana ini. Saat ini, sebanyak 11.106 tenaga kesehatan telah disiagakan dan bekerja di lapangan untuk membantu para korban gempa maupun pasien umum.
Kasus Rektor Unsoed, Mendiktisaintek Minta Layanan Akademik Tetap Berjalan

Komposisi tenaga kesehatan yang bertugas meliputi:
- 134 dokter
- 5.306 perawat
- 3.974 bidan
- 1.647 tenaga kesehatan lainnya
Apa Saja Kebutuhan Mendesak yang Belum Terpenuhi?
Meski ribuan tenaga medis sudah berada di lokasi bencana, BNPB mengidentifikasi adanya kekurangan tenaga spesifik untuk mengoptimalkan pelayanan medis. Saat ini, masih dibutuhkan tambahan sebanyak 133 tenaga kesehatan dengan rincian kebutuhan:
- 63 dokter umum
- 12 dokter spesialis
- 47 perawat
- 2 perawat ortopedi
- 4 perawat anestesi
- 5 apoteker
Di tengah proses pemulihan layanan kesehatan pascagempa ini, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Berton SP Panjaitan meminta warga agar tidak mudah terpengaruh oleh isu atau rumor liar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait situasi pascabencana.






