JAKARTA — Peluncuran program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan target kapasitas mencapai 100 gigawatt peak (GWp) dinilai menjadi momentum penting untuk mempercepat langkah transisi energi nasional di Indonesia. Program ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan energi bersih secara lebih masif.
Kepala Pusat Energi dan Pangan INDEF, Abra Talattov, menyampaikan pandangan tersebut kepada media di Jakarta pada Kamis (27/8/2026). Menurut Abra, pengembangan PLTS dalam skala besar ini memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil secara bertahap.
Sebagai langkah awal untuk merealisasikan target besar tersebut, program PLTS ini akan dimulai dengan pembangunan 14 proyek tahap awal. Proyek-proyek pada fase pertama ini direncanakan memiliki kapasitas total sebesar 5.300 MWp.
Danantara Housing Expo Resmi Dibuka, Himbara Tawarkan KPR Bunga Mulai 2,75%

Transformasi Sistem Kelistrikan Menyeluruh
Kendati memiliki potensi besar, Abra mengingatkan bahwa pembangunan PLTS ini tidak boleh dilakukan secara parsial. Ia menegaskan bahwa pengembangan PLTS harus dirancang sebagai bagian integral dari transformasi sistem kelistrikan secara menyeluruh di tanah air, bukan semata-mata dipandang sebagai upaya penambahan kapasitas pembangkit listrik saja.
Oleh karena itu, Abra menekankan pentingnya penyelarasan dalam perencanaan. Pengembangan PLTS skala besar perlu berjalan selaras dengan proyeksi pertumbuhan permintaan listrik di masyarakat. Selain itu, kondisi sistem kelistrikan di setiap wilayah, kesiapan jaringan transmisi, serta tahapan penambahan pembangkit yang telah diatur dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) juga harus menjadi pertimbangan utama.
Solusi Ketergantungan Cuaca dan Proyek Bali
Tantangan lain yang perlu diantisipasi dalam implementasi teknologi ini adalah karakter produksi energi dari PLTS yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Sifat intermiten atau ketergantungan cuaca tersebut menuntut adanya solusi teknologi dan infrastruktur pendukung agar pasokan listrik tetap stabil.
Butuh Rp 456 Miliar Selamatkan Proyek LRT City

Menurut Abra, sifat ketergantungan cuaca ini dapat diimbangi melalui beberapa langkah strategis. Langkah-langkah tersebut meliputi penguatan transmisi, interkoneksi antarsistem kelistrikan, penerapan digitalisasi jaringan, serta penyediaan fasilitas penyimpanan energi yang memadai.
Sebagai salah satu wujud nyata integrasi teknologi penyimpanan tersebut, saat ini terdapat rencana untuk mengembangkan proyek PLTS berkapasitas 1.000 MWp di Bali. Proyek pembangkit ramah lingkungan di Pulau Dewata ini nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 3.300 MWh guna menjaga stabilitas dan keandalan pasokan listrik ke jaringan.






