Pasar modal dalam negeri diramaikan oleh rumor mengenai rencana akuisisi emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Kabar yang beredar menyebutkan bahwa pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal sebagai Haji Isam, berencana mengambil alih sebagian besar saham emiten milik Low Tuck Kwong tersebut.
Menanggapi spekulasi yang berkembang di kalangan pelaku pasar, manajemen BYAN akhirnya memberikan penjelasan resmi mengenai kebenaran kabar akuisisi ini.
Klarifikasi Resmi Manajemen BYAN ke Bursa Efek
Manajemen PT Bayan Resources Tbk merespons cepat rumor pasar ini melalui keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 18 Agustus 2026.
Corporate Secretary BYAN, Jenny Quantero, menegaskan bahwa hingga saat ini perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi saham perseroan oleh pihak lain, termasuk kabar yang menyeret nama Haji Isam.
Antusias Tinggi, Pengunjung Padati BNI wondrX 2026

Kendati demikian, pihak manajemen menyampaikan informasi dari pemegang saham pengendali. Menurut pemegang saham pengendali BYAN, sebagai investor mereka dari waktu ke waktu dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan serta peluang yang ada untuk memaksimalkan nilai investasi mereka di dalam perseroan.
Nilai Fantastis Rumor Akuisisi Saham
Kabar burung yang beredar di pasar mengeklaim bahwa Haji Isam akan mengambil alih sekitar 62,2% saham BYAN. Jika ditinjau dari struktur pemegang saham per 31 Juli 2026, porsi tersebut sangat mendekati akumulasi kepemilikan keluarga Low Tuck Kwong.
Data kepemilikan per akhir Juli 2026 menunjukkan kepemilikan saham BYAN terbagi atas: - Dato' Low Tuck Kwong sebesar 40,251% - Elaine Low sebesar 22,002%
Jika porsi kepemilikan Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low digabungkan, totalnya mencapai sekitar 62,253%.
Perusahaan China Mulai Bangun Kawasan Terpadu Rp1,2 Triliun di IKN

Berdasarkan data perusahaan, BYAN memiliki total saham beredar sebanyak 33.333.335.000 lembar. Dengan demikian, porsi 62,2% saham yang dirumorkan akan diambil alih tersebut setara dengan sekitar 20,73 miliar lembar saham.
Apabila dihitung secara matematis menggunakan harga penutupan perdagangan saham BYAN pada 18 Agustus 2026 yang berada di tingkat Rp17.275 per saham, maka nilai transaksi untuk membeli 62,2% saham tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp358,17 triliun.
Dampak Terhadap Operasional Perusahaan
Meski rumor ini sempat memicu kehebohan di kalangan investor, manajemen BYAN memastikan bahwa aktivitas bisnis perusahaan tetap berjalan normal. Perseroan menyatakan tidak terdapat dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kinerja keuangan BYAN akibat beredarnya kabar burung tersebut.






