Direktur Utama PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa), Leo Yulianto Sutedja, memetakan tantangan baru yang dihadapi sektor properti industri di tengah lonjakan bisnis kecerdasan buatan (AI) dan data center di Indonesia. Ledakan tren teknologi ini secara langsung mengubah peta persaingan para pengembang kawasan industri di tanah air.
Kini, para investor di sektor digital tidak hanya mencari lahan strategis, melainkan menuntut kepastian pasokan listrik, konektivitas internet berkapasitas tinggi, hingga ketersediaan AI. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ketersediaan daya (power), air (water), dan serat optik netral (neutral fiber) menjadi fondasi krusial yang harus disiapkan oleh pengelola kawasan sejak awal. Langkah integrasi dini ini sangat penting agar investor tidak perlu membangun infrastruktur dasar dari nol.
Sebagai pengembang dan pengelola kawasan industri di Kabupaten Bekasi, BeFa menyoroti bahwa tantangan utama dalam industri berbasis AI dan data center ini bukan sekadar besaran daya yang tersedia. Masalah kritis yang perlu diantisipasi adalah bagaimana kapasitas tersebut dapat disalurkan secara andal dan terus dikembangkan secara fleksibel sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan para penyewa (tenant) di masa mendatang.






